BabelMendunia.com, Pangkalpinang- sebagai ibu Kota Kepulauan Bangka Belitung saat ini menghadapi permasalah sampah yang sangat serius. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkal Pinang pada tahun 2025 mengalami peningkatan volume sampah sebesar 7,6 % dibandingkan tahun sebelumnya. Status Pangkal Pinang sebagai Ibu Kota kepulauan Bangka Belitung menjadikan Pangkal Pinang sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi namun, sebaliknya luasan wilayahnya paling kecil dibandingkan daerah lainnya. Luas wilayah yang kecil menyebabkan wilayah Kota Pangkal pinang memiliki keterbatasan ruang untuk Tempat Pembungan Akhir (TPA) di tengah peningkatan volume sampah yang membeludak. Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di TPA Parit 6 Kota Pangkal Pinang menerima dan menampung 120 ton sampah perhari (Syahputra.M.A, dkk, 2022). Hal tersebut menjadi sinyal bahwa Pangkal Pinang tengah mengalami darurat sampah yang membutuhkan perhatian penuh.
Kondisi Kota Pangkal Pinang ini merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya dari pihak pemerintah. Karena sumber utama sampah adalah dari limbah aktivitas sehari-hari rumah tangga maupun indutri, sehingga perlu adanya perubahan pola pikir dari masyarakat terkait pengelolaan sampah. Karena sebesar apapun upaya pemerintah dalam memperbaiki permasalahan ini namun, tidak adanya kesadaran dari masyrakat permasalahan ini akan tetap berulang dan sulit diselesaikan dari akarnya. Belum lagi ada beberapa kebiasaan masyarakat yang memperparah kondisi ini. Tidak sedikit masyarakat di Kota Pangkal Pinang memasang plang berisikan tulisan larangan membuang sampah sembarangan di area lahan kosong milik mereka, dikarenakan masyarakat lain membuang sampah sembarangan di tempatnya. Bukan hanya itu saluran air, sungai dan area pinggir jalan tidak luput dari oknum tidak bertanggungjawab. Selain itu, sampah organik dan anorganik juga masih sering dicampur tanpa proses pemilahan terlebih dahulu. Kebiasaan sederhana yang dianggap sepele ini justru menjadi salah satu penyebab utama menumpuknya masalah sampah di lingkungan sekitar.
(Jalan Dam Pintu Air, Keluruhan Pintu air, Kec. Rangkui, Pangkal Pinang)
(Jalan Dam Pintu Air, Keluruhan Pintu air, Kec. Rangkui, Pangkal Pinang)
Dampak dari permasalahan ini tidak hanya pada estetikalingkungan, tetapi juga padakehidupan sosial masyarakat. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bau tidak sedap, mencemari lingkungan, serta meningkatkan risiko banjir dan penyakit. Bahkan, dapat memicu ketegangan antarwarga akibat saling terganggu dengan perilaku membuang sampah sembarangan. Dengan kata lain, sampah tidak hanya menjadi masalah kebersihan, tetapi juga dapat mengganggu keharmonisan sosial. Melihat kondisi tersebut, langkah paling sederhana namun sangat penting yang dapat dilakukan adalah memilah sampah dari rumah. Pemilahan antara sampah organik, anorganik, dan residu dapat membantu mengurangi beban TPA serta mempermudah proses pengelolaan sampah. Meski terlihat kecil, kebiasaan ini memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh seluruh masyarakat.
Untuk dapat memilah sampah perlu terlebih dahulu mengenal jenis-jenis sampah. Sampah secara umum terbagi menjadi beberapa jenis yaitu, sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang terdiri dari bahan-bahan penyusun hewan maupun tumbuhan yang terdapat di alam ataupun bahan yang dihasilkan dari aktivitas pertanian, peternakan, perikanan, rumah tangga dan yang lainnya. Sampah organik termasuk kategori sampah yang mudah diuraikan secara alamiah. Sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti mineral dan minyak bumi, atau yang berasal dari berbagai proses industri . Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Pada skala rumah tangga, sampah anorganik dapat berupa botol kaca, tas plastik, botol plastik, dan kaleng. Melalui pengetahuan ini masyarakat tidak perlu lagi membuang sampah ke TPA. Masyarakat dapat memilah sampah sesuai jenisnya dari rumah atau bahkan, menggelolanya langsung dari rumah menjadi sebuah produk bernilai ekonomis seperti kompos, ekoenzym, kerjinan tangan, dan pakan ternak. Bagi Masyarakat yang belum bisa mengololah sampah plastikyang dihasilkan dapat di jual ke komunitas pengelolah sampah di daerah setempat Salah satunya yaitu Komunitas Kreasi Pemuda Kota Pangkal Pinang (KKPP). Sampah tersebut akan di olah menjadi kerajinan, paving blok, gantungan kunci, pot, dan banyak lagi yang memiliki nilai ekonomis. Untuk sampah organiknya bisa diserahkan ke Kelompok Sahabat Farma yang menjadi rumah maggot. Rumah ini memanfaatkan lalat jenislarva Black Soldier Fly (BSF) sebagai pengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik dan pakan ternak bernilai ekonomi tinggi. Selain untuk rumah maggot, Sahabat Farma juga menggelolah limbah menjadi ekoenzym. Dengan adanya solusi ini, tidak ada lagi alasan untuk mulai melakukan aksi memilah sampah dari rumah, sehingga konflik dan dampak lingkungan yang terjadi akibat membuang sampah secara langsung ke TPA dapat perlahan dikurangi.
Melihat berbagai permasalahan dan solusi yang ada, sebenarnya persoalan sampah di Pangkal Pinang bukan hanya tentang banyaknya sampah yang dihasilkan setiap hari, tetapi juga tentang bagaimana cara kita mengelolanya. Kota yang bersih tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan maupun TPA, melainkan juga pada kesadaran masyarakat sebagai penghasil sampah itu sendiri. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, mencampur sampah organik dan anorganik, serta menganggap urusan sampah selesai setelah dibuang perlu mulai diubah. Sudah saatnya masyarakat membangun kebiasaan baru dengan memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.Kebiasan ini juga harus ditunjang dengan adanya perbanyak tempat penggelolah sampah organik dan anorganik. Penggelola Sahabat Farma mengatakab bahwa harusnya program rumah maggot ini dibuat di tiap kecamatan di Pangkal Pinang, namun hingga saat ini hal tersebut belum terealisasikan. Padahal ini dapat menjadi solusi nyata untuk penggelolaan sampah organik di Pangkal Pinang
Darurat sampah di Kota Pangkal Pinang merupakan salah satu masalah yang harus segera di tangani bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat harus mulai sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mulai melakukan aksi pilah sampah. Pemerintah juga harus mulai mensosialisasikan mengenai aksi pilah sampah dari rumah dan penggelolaanya, karena keterbatasan pengetahuan tentang pengelolaan dan pemilahan sampah dapat menjadi alasan nyata masyarakat belum memulai aksi ini. Aksi pilah sampah mungkin terdengar sederhana, namun dampaknya akan sangat besar bagi kehidupan masyarakat jika dapat direalisasikan. Salah satu dampak nyata dari aksi ini adalah terciptanya berbagai produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan terciptanya lingkungan yang lebih bersih. Jadi ayok seperadik, ubah kebiasaan buang sampah sembarangan dengan dksi sederhanah pilah sampah dari Rumah
Koordinator : Dr. Sulvi Purwayantir, S. TP, MP
