Indeks
Opini  

PUCUK REBUNG TAK SEKEDAR MOTIF, SIMBOL PERTUMBUHAN DALAM HARMONI KISAH ALAM DAN IDENTITAS DALAM KAIN CUAL MASLINA

Oleh: Amelia,Konservasi Sumber Daya Alam, Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

BabelMendunia.com, Kain cual merupakan salah satu warisan budaya tekstil khas Bangka Belitung yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan makna simbolik yang kuat. Diantara berbagai motif yang berkembang, motif pucuk rebung (Gambar 1) menjadi salah satu motif dominan yang sering dijumpai pada kain cual produksi Maslina. Motif ini tidak sekadar hiasan visual, melainkan representasi hubungan manusia dengan alam, nilai-nilai kehidupan, serta akulturasi budaya Melayu dan Cina yang telah berlangsung lama di Bangka Belitung. Melalui kajian etnobiologi dan budaya, motif pucuk rebung dapat dipahami sebagai simbol pertumbuhan, harapan, dan kesinambungan hidup yang berakar pada kearifan lokal Dalam konteks etnobiologi, motif pucuk rebung berangkat dari pengamatan manusia terhadap tumbuhan bambu. Rebung merupakan tunas muda bambu yang tumbuh runcing ke atas dan melambangkan awal kehidupan, pertumbuhan, serta potensi masa depan. Masyarakat tradisional Melayu sangat dekat dengan bambu, baik sebagai bahan bangunan, peralatan rumah tangga, hingga bahan pangan. Kedekatan ini melahirkan simbol-simbol budaya yang kemudian dituangkan ke dalam seni, salah satunya melalui motif tekstil. Dengan demikian, pucuk rebung pada kain cual Maslina merupakan bentuk dokumentasi budaya atas interaksi manusia dengan lingkungan biologisnya.

           

Gambar 1. Motif pucuk rebung kain Cual ; b) Pucuk rebung bambu

Motif pucuk rebung pada kain cual biasanya digambarkan berbentuk segitiga runcing yang tersusun berulang dan simetris. Dalam desain kain, bagian inilah yang perlu ditunjukkan dan diberi keterangan sebagai motif pucuk rebung, karena menjadi fokus utama pesan simbolik. Pola segitiga yang mengarah ke atas menggambarkan cita-cita, harapan, dan doa agar pemakainya senantiasa mengalami kemajuan dalam hidup. Dalam budaya Melayu, motif ini sering dikaitkan dengan pepatah “kecil menjadi besar, muda menjadi tua”, yang bermakna proses kehidupan manusia yang terus berkembang dan harus dijalani dengan kesabaran serta budi pekerti.

Motif  pucuk rebung  pada kain Cual Maslina bukan sekadar hiasan visual, tetapi menyimpan banyak manfaat dan makna bagi kehidupan masyarakat Bangka Belitung. Pucuk rebung tunas muda bambu melambangkan  awal kehidupan, pertumbuhan, dan harapan . Seperti rebung yang tumbuh perlahan namun kuat hingga menjadi bambu yang kokoh, manusia juga diharapkan tumbuh dengan kesabaran, keteguhan, dan budi pekerti. Nilai inilah yang diwariskan secara simbolik melalui kain cual, terutama saat dikenakan pada upacara adat, pernikahan, dan kegiatan penting lainnya. Selain sebagai simbol kehidupan, motif pucuk rebung juga berfungsi sebagai media pendidikan budaya  Melalui kain Cual Maslina, generasi muda diperkenalkan pada filosofi hidup masyarakat Melayu dan pengaruh budaya Tionghoa yang sama-sama memandang bambu sebagai lambang kebajikan, ketahanan, dan keberuntungan. Tanpa perlu penjelasan panjang, nilai-nilai tersebut  diceritakan lewat motif kain yang dipakai sehari-hari maupun pada acara adat

Dalam sisi etnobiologi rebung (tunas bambu) tidak hanya dipahami sebagai bahan pangan bergizi, tetapi juga sebagai bagian dari hubungan panjang antara manusia dan lingkungan alamnya. Berbagai kelompok etnis di Asia, termasuk masyarakat Melayu dan Tionghoa, telah lama memanfaatkan rebung sebagai sumber pangan tradisional yang mencerminkan pengetahuan lokal (local knowledge) tentang tumbuhan liar yang aman dan bermanfaat. Pengetahuan etnobiologis ini terlihat dari praktik pengolahan rebung yang selalu direbus atau difermentasi terlebih dahulu sebuah kearifan lokal untuk menghilangkan racun alami glikosida sianogenik sebelum dikonsumsi. Secara budaya, rebung sering dikaitkan dengan simbol pertumbuhan, kesederhanaan, dan keberlanjutan karena bambu tumbuh cepat dan mudah diperbarui. Dari sisi kesehatan, masyarakat tradisional secara empiris telah memanfaatkan rebung untuk melancarkan pencernaan, menjaga kebugaran, dan sebagai makanan rendah kalori sejalan dengan temuan ilmiah modern tentang kandungan serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktifnya. Dengan demikian, rebung menjadi contoh nyata bagaimana pengetahuan tradisional dan ilmu modern saling melengkapi dalam memahami nilai biologis, budaya, dan kesehatan dari satu sumber daya hayati.

Manfaat lain dari motif pucuk rebung adalah sebagai penanda identitas dan jati diri daerah Kain Cual Maslina dengan motif ini menjadi ciri khas Bangka Belitung yang membedakannya dari kain tradisional daerah lain di Indonesia. Kehadirannya memperkuat rasa kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya lokal, sekaligus menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam yang telah lama terjalin. Dari sisi ekonomi dan sosial, motif pucuk rebung pada kain Cual Maslina juga memberi manfaat nyata. Kain ini memiliki nilai jual dan daya tarik budaya yang tinggi, sehingga mendukung keberlangsungan perajin tenun lokal. Dengan tetap mempertahankan motif tradisional yang sarat makna, kain cual tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga sumber penghidupan dan sarana pelestarian kearifan lokal.

Kain cual Maslina tidak hanya merepresentasikan budaya Melayu, tetapi juga memperlihatkan pengaruh budaya Cina yang telah lama berinteraksi dengan masyarakat lokal Bangka Belitung. Sejarah mencatat bahwa kedatangan etnis Tionghoa ke Bangka berkaitan erat dengan aktivitas pertambangan timah sejak abad ke-18. Interaksi sosial yang intens antara masyarakat Melayu dan Cina melahirkan proses akulturasi yang tercermin dalam seni, kuliner, bahasa, hingga tekstil. Dalam budaya Cina, bambu merupakan salah satu dari Four Gentlemen (empat tanaman mulia) yang melambangkan keteguhan, kejujuran, dan daya tahan hidup. Nilai-nilai ini sejalan dengan filosofi pucuk rebung dalam budaya Melayu.

Pengaruh Cina juga dapat dilihat dari penggunaan warna-warna cerah seperti merah, emas, dan kuning pada kain cual Maslina. Warna emas melambangkan kemakmuran dan kehormatan, sementara merah dalam budaya Cina identik dengan keberuntungan dan kebahagiaan. Ketika motif pucuk rebung dipadukan dengan warna-warna tersebut, kain cual tidak hanya menjadi simbol identitas Melayu, tetapi juga cerminan harmonisasi budaya Melayu Cina yang hidup berdampingan secara damai di Bangka Belitung. Dari sudut pandang etnobiologi, kain cual Maslina dengan motif pucuk rebung merupakan bukti bahwa pengetahuan tradisional masyarakat tidak terlepas dari lingkungan alamnya. Tumbuhan bambu yang tumbuh subur di daerah tropis menjadi sumber inspirasi artistik sekaligus simbol kehidupan. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun melalui karya budaya, termasuk tekstil tradisional. Oleh karena itu, kain cual dapat dipandang sebagai media penyimpanan pengetahuan lokal (local knowledge) yang menghubungkan manusia, alam, dan budaya

Di era modern, keberadaan kain cual Maslina menghadapi tantangan globalisasi dan pergeseran selera generasi muda. Namun, justru di sinilah pentingnya mengangkat kain cual sebagai identitas budaya yang adaptif. Motif pucuk rebung tidak kehilangan relevansinya, karena nilai-nilai pertumbuhan, harapan, dan keharmonisan lintas budaya tetap dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat masa kini. Upaya dokumentasi melalui artikel, jurnal, dan publikasi media massa menjadi langkah penting dalam menjaga eksistensi kain cual sebagai warisan budaya tak bendaSebagai penutup, motif pucuk rebung pada kain cual Maslina bukan sekadar ornamen tekstil, melainkan simbol etnobiologis yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam bambu, nilai kehidupan masyarakat Melayu, serta pengaruh filosofi budaya Cina. Kain cual menjadi bukti bahwa budaya lokal Bangka Belitung tumbuh dari proses interaksi alam dan manusia yang kaya makna. Dengan memahami dan menuliskan makna ini, mahasiswa etnobiologi turut berperan dalam melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah arus modernisasi .

Koordinator Dr. Sulvi Purwayantie

KSDA, UNMUH BABEL

Exit mobile version