Indeks
Opini  

BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L): TANAMAN OBAT TRADISIONAL DAN PILAR KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA

OLEH: ZAINURI, PRODI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM FAKULTAS TEKNIK DAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANGKA BELITUNG

BabelMendunia.com, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Letak geografis di wilayah tropis, kondisi iklim yang stabil, serta keragaman ekosistem mulai dari hutan hujan tropis, pesisir, hingga agroekosistem tradisional menjadikan Indonesia sebagai pusat kekayaan flora dunia. Di tengah kekayaan hayati tersebut, berbagai jenis tumbuhan lokal tumbuh dan berkembang secara alami di lingkungan sekitar masyarakat. Salah satunya adalah buah mengkudu (Morinda citrifolia L) mengkudu, tanaman tropis yang kerap dijumpai di pekarangan rumah, lahan kebun, hingga tepi kawasan hutan, namun sering kali terabaikan dan dianggap kurang bernilai akibat aroma buahnya yang tajam.

Selain itu, mengkudu memiliki aktivitas antibakteri, Ekstrak buah mengkudu mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri patogen. Temuan-temuan ini memperkuat posisi mengkudu sebagai tanaman obat multifungsi yang bernilai ilmiah dan berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan.

Nilai mengkudu tidak hanya terbatas pada aspek medis. Dalam konteks konservasi hayati, mengkudu memiliki peran ekologis yang sangat penting. Tanaman ini merupakan bagian dari keanekaragaman tumbuhan obat yang menyusun kekayaan plasma nutfah Indonesia. Plasma nutfah berfungsi sebagai cadangan sumber daya genetik yang sangat penting bagi keberlanjutan pemanfaatan hayati di masa depan. Kajian etnobotani menegaskan bahwa pelestarian tumbuhan obat lokal merupakan salah satu strategi penting dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus mempertahankan kearifan lokal masyarakat.

Secara kuantitatif, meskipun belum banyak penelitian yang secara spesifik mengukur kemampuan penyerapan CO₂ pada Morinda citrifolia, pendekatan ekologi vegetasi dan perhitungan rata-rata tanaman tropis menunjukkan bahwa pohon kecil hingga sedang mampu menyerap karbon dalam jumlah yang bermakna. Berdasarkan estimasi vegetasi tropis, satu tanaman mengkudu dewasa diperkirakan mampu menyerap sekitar 13–25 kg CO₂ per tahun, tergantung pada umur tanaman, ukuran tajuk, kondisi tanah, serta intensitas cahaya. Nilai ini menunjukkan bahwa walaupun mengkudu bukan pohon hutan berdiameter besar, kontribusinya tetap signifikan apabila ditanam dalam jumlah banyak. Dalam skala lahan, sistem kebun campuran atau agroforestri yang melibatkan tanaman perdu dan pohon kecil seperti mengkudu berpotensi menyerap sekitar 5–15 ton CO₂ per hektar per tahun, tergantung pada kepadatan tanaman dan struktur vegetas.

Vegetasi darat merupakan salah satu penyerap karbon alami yang paling efektif dalam sistem ekologi bumi, karena mampu mengikat karbon melalui biomassa hidup dan bahan organik tanah. Meskipun mengkudu tergolong sebagai pohon kecil hingga perdu dan bukan pohon hutan berdiameter besar, keberadaannya secara kolektif tetap memiliki arti ekologis yang signifikan. Apabila mengkudu ditanam secara luas di pekarangan rumah, kebun masyarakat, atau dikombinasikan dalam sistem agroforestri, maka akumulasi biomassa yang terbentuk dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyerapan karbon dalam skala lokal hingga regional, menegaskan bahwa sistem vegetasi campuran dan keberadaan tanaman pohon di lahan masyarakat terbukti mampu meningkatkan cadangan karbon dibandingkan lahan terbuka atau sistem pertanian monokultur yang minim vegetas.

Selain perannya dalam penyerapan karbon, mengkudu juga memiliki berbagai fungsi ekologis penting yang mendukung stabilitas dan keberlanjutan ekosistem. Salah satu fungsi utama tersebut adalah perannya dalam memperbaiki struktur dan kesuburan tanah. Sistem perakaran mengkudu yang menyebar mampu menahan partikel tanah, sehingga mengurangi risiko erosi akibat air hujan maupun aliran permukaan. Keberadaan akar juga membantu meningkatkan porositas tanah, memperbaiki infiltrasi air, dan menjaga kelembapan tanah. Daun, bunga, dan ranting mengkudu yang gugur ke permukaan tanah akan mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme, menghasilkan bahan organik yang memperkaya humus dan meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman lain di sekitarnya. Proses ini merupakan bagian penting dari siklus nutrien yang menjaga produktivitas ekosistem.

Mengkudu juga berperan sebagai pendukung keanekaragaman hayati lokal. Tanaman ini menyediakan habitat, tempat berlindung, serta sumber pakan bagi berbagai organisme, seperti serangga penyerbuk, serangga tanah, mikroorganisme, dan burung kecil. Struktur tajuk dan keberadaan bunga serta buah menciptakan mikrohabitat yang mendukung keberadaan fauna kecil, sehingga memperkaya jaring-jaring makanan dalam ekosistem. Keanekaragaman organisme yang berasosiasi dengan mengkudu secara tidak langsung meningkatkan stabilitas ekosistem, karena sistem yang beragam umumnya lebih tahan terhadap gangguan lingkungan seperti perubahan iklim atau serangan organisme pengganggu.

Dalam konteks konservasi keanekaragaman hayati, mengkudu memiliki peran ekologis yang penting sebagai penyusun vegetasi penunjang yang mendukung kelangsungan hidup berbagai jenis flora dan fauna. Keberadaan mengkudu dalam suatu lanskap baik di pekarangan, kebun campuran, maupun tepi kawasan hutan meningkatkan kompleksitas struktur vegetasi. Struktur vegetasi yang berlapis berperan penting dalam menciptakan kondisi mikroklimat yang lebih stabil, seperti suhu yang lebih sejuk, kelembapan yang terjaga, serta perlindungan dari intensitas cahaya dan angin yang berlebihan. Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan tumbuhan bawah, tanaman obat lain, serta regenerasi alami anakan pohon, yang merupakan aspek penting dalam konservasi flora lokal.

Keberadaan mengkudu dalam suatu ekosistem tidak hanya berperan sebagai penyerap karbon dan tanaman obat, tetapi juga memiliki fungsi ekologis penting dalam mendukung konservasi fauna. Tanaman ini menyediakan sumber pakan, habitat, dan ruang berlindung bagi berbagai kelompok organisme, mulai dari serangga hingga vertebrata kecil. Bunga mengkudu menghasilkan nektar dan serbuk sari yang dimanfaatkan oleh serangga penyerbuk seperti lebah madu (Apis cerana, Apis dorsata), lebah tanpa sengat (Trigona sp.), serta berbagai jenis kupu-kupu seperti Papilio sp. dan Danaus sp. Keberadaan serangga penyerbuk ini berperan penting dalam keberhasilan reproduksi tanaman serta menjaga kesinambungan keanekaragaman flora di sekitarnya, sehingga secara tidak langsung mendukung stabilitas ekosistem.

Selain itu, serasah daun dan ranting mengkudu yang gugur ke permukaan tanah menciptakan habitat yang mendukung kehidupan fauna tanah dan mikroorganisme. Berbagai organisme seperti semut (Formicidae), rayap (Isoptera), kumbang tanah (Coleoptera), cacing tanah (Lumbricus sp.), serta bakteri dan jamur pengurai memanfaatkan bahan organik tersebut sebagai sumber energi. Aktivitas fauna tanah dan mikroorganisme ini mempercepat proses dekomposisi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, serta memperbaiki struktur dan kesuburan tanah. Proses ini merupakan bagian penting dari siklus nutrien yang mendukung produktivitas dan ketahanan ekosistem terhadap degradasi lingkungan.

Tajuk dan percabangan mengkudu juga berfungsi sebagai tempat bertengger, berlindung, dan bersarang bagi burung-burung kecil seperti burung gereja (Passer montanus), burung kutilang (Pycnonotus aurigaster), burung perkutut (Geopelia striata), dan burung pipit (Lonchura sp.). Beberapa jenis burung tersebut memanfaatkan buah mengkudu sebagai sumber pakan tambahan, terutama pada musim tertentu ketika ketersediaan pakan alami terbatas. Burung-burung ini berperan dalam pengendalian populasi serangga serta membantu proses penyebaran biji, yang berkontribusi pada regenerasi vegetasi dan keseimbangan ekosistem.

Di lingkungan semi-alami dan pekarangan, mengkudu juga menyediakan naungan dan kelembapan yang mendukung keberadaan fauna kecil seperti kadal kebun (Eutropis multifasciata), cicak (Hemidactylus sp.), dan katak kecil (Fejervarya sp.). Fauna-fauna tersebut berperan sebagai predator alami serangga, sehingga membantu menjaga keseimbangan populasi organisme pengganggu secara ekologis. Dalam lanskap yang terfragmentasi akibat aktivitas manusia, keberadaan mengkudu berfungsi sebagai tanaman penyangga (buffer species) yang mendukung konektivitas habitat dan memungkinkan pergerakan fauna kecil antarpetak vegetasi. Hal ini penting untuk menjaga aliran genetik dan mencegah terjadinya kepunahan lokal.

Dengan demikian, integrasi mengkudu dalam pekarangan, kebun campuran, dan sistem agroforestri tidak hanya memberikan manfaat kesehatan dan ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap konservasi fauna dan stabilitas ekosistem. Sistem vegetasi campuran yang melibatkan tanaman seperti mengkudu terbukti mampu meningkatkan keanekaragaman hayati, memperkuat jaring-jaring makanan, serta mendukung keberlanjutan lingkungan secara keseluruhan.

Dalam lanskap yang mengalami fragmentasi akibat aktivitas manusia, seperti pertanian dan permukiman, mengkudu berfungsi sebagai tanaman penyangga (buffer species). Keberadaan mengkudu di antara petak-petak vegetasi berperan sebagai koridor ekologis skala kecil yang memungkinkan pergerakan fauna kecil dan serangga antarhabitat. Konektivitas habitat ini sangat penting untuk mencegah isolasi populasi fauna, menjaga aliran genetik, serta menurunkan risiko kepunahan lokal.

Lebih lanjut, integrasi mengkudu dalam sistem agroforestri dan kebun campuran mendukung konservasi berbasis masyarakat. Sistem ini meningkatkan keanekaragaman spesies tanaman dalam satu lahan, sehingga menciptakan ekosistem pertanian yang lebih stabil, ramah terhadap flora dan fauna, serta lebih tahan terhadap gangguan lingkungan dan menyatakan bahwa sistem agroforestri mampu menggabungkan fungsi produksi dan konservasi, termasuk konservasi keanekaragaman hayati, tanah, air, dan karbon. Dengan demikian, pengembangan mengkudu dalam sistem agroekologi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan kesehatan, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap konservasi flora dan fauna secara berkelanjutan.

Exit mobile version