BabelMendunia.com, TEGALGONDO — Keterbatasan lahan tidak lagi menjadi penghalang bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat. Hal inilah yang diangkat oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah–’Aisyiyah (KKN MAS) Kelompok 57 melalui program budidaya hidroponik sawi di Perumahan IKIP, Desa Tegalgondo, pada Sabtu (8/8/2026).
Program ini hadir sebagai solusi nyata dalam memanfaatkan lahan sempit agar tetap produktif. Dengan memanfaatkan teknologi hidroponik sederhana, warga diajak menanam sayuran sehat tanpa harus memiliki pekarangan luas.
Kegiatan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat mulai dari proses penyemaian benih, perakitan instalasi hidroponik, hingga penanaman. Tidak hanya praktik, mahasiswa juga memberikan edukasi terkait perawatan tanaman dan teknik panen agar hasil yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Penanggung jawab kegiatan, Mustafa Bilal, menjelaskan bahwa program ini dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat dengan kondisi lahan terbatas.
“Banyak rumah di sini memiliki lahan yang sempit, tapi sebenarnya tetap bisa dimanfaatkan. Melalui hidroponik, warga tetap bisa menanam sayuran sendiri dengan cara yang praktis dan efisien,” ungkapnya.
Ia menambahkan, hidroponik tidak hanya menjawab keterbatasan ruang, tetapi juga menjadi langkah awal membangun kemandirian pangan keluarga. Dengan menanam sendiri, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar sekaligus memastikan kualitas sayuran yang dikonsumsi.
Budidaya sawi secara hidroponik dinilai memiliki sejumlah keunggulan, seperti penggunaan air yang lebih hemat, perawatan yang relatif mudah, serta hasil panen yang lebih bersih. Metode ini juga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat perkotaan atau kawasan padat penduduk yang minim lahan terbuka.
Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif bertanya, mencoba langsung proses penanaman, hingga berdiskusi mengenai kemungkinan pengembangan hidroponik di rumah masing-masing.
Selain mendukung pemenuhan kebutuhan pangan, program ini turut memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Area rumah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini berubah menjadi lebih hijau dan produktif, menciptakan suasana yang lebih nyaman dan asri.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan sederhana namun aplikatif. Ilmu yang dibagikan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan KKN, melainkan terus dikembangkan oleh warga sebagai kebiasaan baru.
Melalui program ini, mahasiswa KKN MAS Kelompok 57 Universitas Muhammadiyah–’Aisyiyah menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkup terkecil, yakni rumah tangga. Pemanfaatan lahan sempit dengan cara yang tepat mampu menjadi langkah strategis menuju masyarakat yang lebih mandiri, sehat, dan berdaya.
Upaya sederhana ini menjadi pengingat bahwa solusi besar tidak selalu membutuhkan sumber daya besar. Dari sudut pekarangan yang terbatas, tumbuh harapan baru akan ketahanan pangan dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
