
Babelmendunia.com Bulan Ramadhan selalu identik dengan semangat berbagi. Namun, berbagi bukan sekadar melepas kewajiban atau memberi untuk sekali makan. Pesan kuat inilah yang muncul dalam Talkshow Ramadhan Istimewa Episode 23 di kanal YouTube Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bangka Belitung hari ini. Menghadirkan Ustaz Trianto, M.Pd., Wakil Ketua Lazismu Wilayah Kepulauan Bangka Belitung, diskusi bertajuk “Membangun Ekonomi Umat di Bulan Suci Ramadhan melalui Zakat Infak dan Sedekah (ZIS)” ini membuka cakrawala baru tentang potensi besar dana umat.
Ustaz Trianto, yang dalam kesehariannya mengabdi sebagai guru di SDN 2 Pangkalpinang dan guru mengaji.
Beliau juga menekankan bahwa kedermawanan adalah napas Rasulullah SAW. Namun, di tangan lembaga yang tepat, kedermawanan itu bisa bermetamorfosis menjadi kekuatan ekonomi jangka panjang.
Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah pergeseran paradigma dari zakat konsumtif menuju zakat produktif. Lazismu Bangka Belitung membuktikan hal ini melalui enam pilar pendayagunaan. Salah satu yang paling menonjol adalah pilar pendidikan.
“Pendidikan adalah investasi luar biasa untuk peradaban. Saat ini, ada sekitar 332 penerima beasiswa S1, bahkan hingga ke luar negeri, yang dibantu melalui dana ZIS,” ujar Ustaz Trianto. Baginya, membantu biaya pendidikan adalah cara memutus rantai kemiskinan secara struktural. Tak hanya itu, Lazismu juga bergerak di pilar kesehatan, seperti gerakan orang tua asuh cegah stunting dan penyediaan sumber air bersih di Desa Labu.
Ada angka yang cukup mengejutkan dalam diskusi ini. Potensi zakat di Indonesia mencapai Rp370 triliun per tahun, namun realisasinya melalui lembaga resmi baru menyentuh angka sekitar Rp41 triliun. Kesenjangan ini terjadi karena masih banyak masyarakat yang berzakat secara langsung tanpa melalui lembaga, atau adanya krisis kepercayaan (distrust) akibat trauma masa lalu.
Di sinilah Lazismu hadir dengan standar akuntabilitas tinggi. Dengan predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), Lazismu berupaya menjaga marwah transparansi. Setiap penyaluran didahului dengan asesmen yang ketat dan dilakukan monitoring setiap tiga bulan sekali untuk memastikan keberlanjutan program.
Menjawab tantangan zaman, Lazismu kini merambah ranah digital. Transparansi laporan kini bisa diakses melalui media sosial dan website. Bahkan, untuk memudahkan masyarakat, gerai-gerai zakat fisik tetap dibuka di titik strategis, seperti Masjid Muhajirin.
Pelibatan anak muda juga menjadi strategi cerdas. Dengan membuka rekrutmen relawan bagi siswa SMA/SMK dan mahasiswa, Lazismu tidak hanya mencari tenaga bantuan, tetapi sedang mendidik duta-duta literasi zakat masa depan. Mereka terjun langsung melihat bagaimana sistem kerja lembaga zakat yang profesional, sehingga trust tumbuh sejak usia dini.
Sebagai penutup, Ustaz Trianto memberikan pesan reflektif yang sangat dalam. Menguatkan ekonomi umat tidak bisa dilakukan secara sporadis atau sendirian. Diperlukan lembaga yang sistemik, akuntabel, dan amanah.
Menunaikan ZIS melalui lembaga bukan sekadar menggugurkan kewajiban agama, melainkan sebuah investasi masa depan. Zakat adalah instrumen finansial yang jika dikelola dengan profesional, mampu mengubah profil penerima zakat (Mustahik) menjadi pemberi zakat (Muzakki) di masa depan.