BabelMendunia.com, Kain Cual Bangka Belitung, sebuah mahakarya tenun ikat yang kaya akan sejarah dan filosofi, merupakan cerminan nyata dari persilangan budaya dan keanggunan tradisi maritim Nusantara. Sejarahnya dapat dilacak kembali hingga sekitar abad ke-17 di Kota Muntok, Pulau Bangka, sebuah wilayah yang strategis dalam jalur perdagangan maritim.
Pada awalnya, kain ini dikenal sebagai Limar Muntok dan merupakan lambang eksklusivitas, karena pembuatannya dan penggunaannya secara ketat terbatas di lingkungan bangsawan dan keluarga kerajaan. Warna kuning, misalnya, menjadi simbol pakaian bagi raja dan kerabat terdekat, menunjukkan status sosial yang tinggi dan kemuliaan. Kain ini pada dasarnya adalah manifestasi dari status sosial dan identitas kekerabatan yang kuat.
Namun, seiring waktu, khususnya pada abad ke-19, Kain Cual mulai bertransformasi menjadi komoditas dagang. Melalui jalur perdagangan, kain ini menyebar luas,mencapai wilayah-wilayah penting seperti Palembang diSumatera, dan bahkan menyeberang ke luar negeri hingga ke Singapura dan Tanah Melayu, menggarisbawahi peran Bangka Belitung sebagai pusat budaya yang dinamis. Istilah “cual”sendiri diperkirakan berasal dari “celupan awal” pada benang sebelum proses penenunan dilakukan.
Meskipun memiliki akar sejarah yang dalam, popularitas Kain Cual sempat meredup seiring dengan perubahan zaman dandinamika politik-ekonomi. Kebangkitannya yang fenomenal dan transformasinya menjadi ikon fesyen dan warisan budaya modern tidak terlepas dari peran vital seorang tokoh inspiratif: Ibu Maslina. Bersama suaminya, Ibu Maslina, yang memiliki latar belakang sebagai penari dan pemerhati budaya, memulai upaya revitalisasi Kain Cual di Pangkal Pinang sekitar tahun 1990-an. Upaya ini bukan sekadar melanjutkan produksi, tetapi menghidupkan kembali semangat menenun, mendokumentasikan motif-motif klasik, dan melakukan inovasi yang menjadikannya relevan di zaman modern. Kualitas tenunan yang dipertahankan, teknik pewarnaan yang ditingkatkan, sertakeberanian dalam mengeksplorasi motif baru namun tetapberpijak pada pakem tradisional, adalah kunci keberhasilanrenaisans Kain Cual. Kontribusi beliau telah menjadikan Kain Cual, yang awalnya hanya dikenal lokal, kini diakui sebagai warisan budaya nasional.
Motif Merak yang terukir indah di atas Kain Cual sutra yang ditenun di bawah naungan Ibu Maslina adalah sebuah epitomdari harmoni antara warisan klasik dan kemewahan modern. Kain ini melampaui fungsinya sebagai pakaian, bertransformasi menjadi kanvas yang merekam perjalanan historis dan kekayaan filosofis. Dalam konteks Kain Cual, pemilihan motif merak bukan hanya didorong oleh nilai estetika, melainkan oleh narasi budaya lintas-etnis yang melekat kuat pada masyarakat Bangka Belitung. Keanggunan merak, yang dipancarkan melalui setiap helai sutra, menjadi media universal untuk menyampaikan nilai-nilai keindahan abadi, keagungan, dan harapan akan keberuntungan.
Kain Cual bermotif merak Ibu Maslina mewakili puncak dari pengrajinannya. Perusahaan beliau memastikan penggunaanbahan baku premium, seperti sutra murni 100%, dikombinasikan dengan teknik tenun ikat yang rumit dan presisi. Ini bukan hanya janji kualitas, tetapi sebuah komitmen untuk menjaga martabat warisan budaya. Di tengah arus produksi massal, Kain Cual Maslina tetap mempertahankan otentisitasnya sebagai produk seni handicraft yang mengandung nilai ketelitian dan kesabaran tinggi.
Di era kontemporer, Kain Cual bermotif merak bertindak sebagai “jembatan identitas” bagi pemakainya. Mengenakan kain ini adalah sebuah pernyataan yang halus namun tegas tentang apresiasi terhadap warisan nusantara, sekaligus menunjukkan selera yang tinggi terhadap keanggunan. Kain inisangat cocok digunakan dalam acara-acara formal, diplomatik,atau bahkan sebagai koleksi pribadi yang bernilai investasi. Ia menunjukkan bahwa warisan budaya, ketika diolah dengan kualitas dan visi yang tepat, tidak akan pernah usang. Kain Cual Ibu Maslina, dengan motif meraknya yang memukau, mengajarkan kita bahwa tradisi adalah sebuah entitas yang hidup, dinamis, dan mampu “menari” dengan anggun dipanggung global tanpa kehilangan akarnya. Kain Cual sutra Merak adalah bukti nyata bahwa warisan budaya lokal dapat menjadi lambang kemewahan universal dan kebanggaan nasional yang berkelanjutan.
Salah satu motif yang paling memukau dan kaya akan makna filosofis pada Kain Cual adalah Motif Merak. Motif ini, yang sering ditampilkan secara anggun di atas kehalusan benang sutra, membawa serta lapisan makna yang mendalam dari berbagai tradisi lintas budaya yang memengaruhi Nusantara: Merak Hijau (Pavo muticus) memegang peran sentral dan kaya makna dalam warisan budaya di seluruh Asia, dihormati sebagai simbol keagungan, keindahan, dan keberuntungan di berbagai tradisi.
Di Cina, simbolisme merak berkembang menjadi penanda status kekuasaan, di mana pada era Dinasti Ming danQing, bulu merak berfungsi sebagai lencana peringkat bagi pejabat sipil dan militer, melambangkan keunggulan, prestasi, dan kehormatan yang tinggi, sementara dalam praktik Feng Shui, merak diasosiasikan dengan menarik keberuntungan dan perlindungan. Sementara itu di Malaysia, pesona merak terjalin kuat melalui pengaruh budaya India, di mana ia menjadi vahana (kendaraan suci) dari Dewa Murugan, menjadikannya simbol penting selama perayaan Deepavali yang melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan, sekaligus menjadi motif yang populer dalam tekstil tradisional seperti Songket dan Batik yang melambangkan keanggunan.
Kemudian di Indonesia, Merak Hijau memiliki kedudukan ganda sebagai satwa endemik yang menginspirasi sekaligus ikon budaya utama, terwujuddalam Tari Merak dari Jawa Barat yang mengekspresikan keindahan , pesona, dan kegembiraan melalui gerakan yang anggun dan dalam kesenian Reog Ponorogo di Jawa Timur, di mana bulu merak yang megah (Dadak Merak) melambangkan kekuatan , keagungan, dan ketidakgentaran. Dengan demikian,dari lencana kehormatan di istana kekaisaran Cina hinggainspirasi seni tari dan simbol konservasi di Indonesia, Merak Hijau mewakili nilai-nilai universal tentang keindahan alam, kemewahan spiritual, dan kebanggaan identitas budaya di Asia.
Dalam konteks masyarakat Bangka Belitung yang hidup diantara tambang timah dan laut, merak di atas sutra dapat dibaca sebagai metafora harapan agar generasi muda berani“mengembangkan sayap” tanpa meninggalkan akar budaya. Warna merah marun yang pekat seperti tanah dan darah menyimbolkan keberanian menghadapi perubahan, sementara kilau benang emas dan perak yang kerap diselipkan memberi nuansa kemakmuran yang diharapkan menyertai langkah pemakainya. Dengan demikian, sehelai kain merak bukan hanya aksesori pesta, tetapi pernyataan identitas: bahwa menjadi modern tidak berarti memutus hubungan dengan tradisi.
Ada beberapa alasan mengapa kain cual motif merak buatan Ibu Maslina patut menjadi incaran pecinta busana dan kolektor seni tekstil. Pertama, secara estetis, perpaduan merah marun dengan detail kepala merak membuat kain tampak berkelas dan mudah dipadu dengan kebaya, blazer, atau bahkan busana modern, sehingga cocok untuk acara adat maupun diplomasi budaya dipanggung internasional. Kedua, kisah di balik proses tenun manual yang memakan waktu panjang memberi nilai emosional: ketika mengenakan kain ini, pemakai sebenarnya sedang membawa cerita kerja kolektif perempuan Bangka Belitung yang gigih menjaga warisan leluhur.
Kain ini juga menawarkan kebanggaan tersendiri bagi generasi muda Bangka Belitung. Dengan menjadikan tenun merak sebagai bagian dari gaya sehari‑hari misalnya diadaptasi menjadi jaket, rok, atau aksesori mereka dapat menunjukkan bahwa daerah kepulauan kecil pun memiliki karya yang sanggup berdiri sejajar dengan tenun besar lain di Indonesia. Ketika wisatawan membawa pulang selembar cual merak dari galeri Ibu Maslina, mereka tidak sekadar membeli cendera mata, melainkan membawa pulang sepotong narasi tentang bagaimana sebuah komunitas memilih bertahan dengan cara yang anggun.
Selain itu, memilih kain cual merak berarti ikut mendukung ekosistem ekonomi kreatif daerah. Setiap lembar yang terbeli membantu keberlangsungan koperasi, membuka peluang bagi penenun muda untuk belajar, dan memastikan bahwa motif‑motif tua tidak punah digilas mode yang seragam. Di tengah tren global yang mengarah pada produk berkelanjutan dan beridentitas kuat, kain cual Maslina sebenarnya memiliki semua unsur yang dicari: bahan berkualitas, cerita otentik, dan proses produksi yang menghargai manusia serta lingkungan.
Koordinator Mata Kuliah Etnobiologi: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP.,M.P
