BabelMendunia.com, Di sebuah sudut Selindung, Bangka Belitung, suara alat tenun berpadu dengan cerita panjang tentang budaya. Kunjungan kami ke pusat Kain Cual Maslina membuka mata bahwa selembar kain bukan sekadar produk sandang, melainkan media pewarisan nilai, filosofi, dan identitas lokal. Salah satu motif yang paling mencuri perhatian adalah motif bunga lotus atau teratai (Nelumbo nucifera). Kain cual tradisional ini seolah menyanyikan kisah lama yang terus dijaga. Dari benang-benang halus itulah lahir kain cual, warisan budaya Bangka Belitung yang sarat makna. Salah satu motif yang paling memikat perhatian adalah bunga lotus, motif yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan filosofi kehidupan.
Bunga lotus diketahui sebagai salah satu flora yang paling sering diadaptasi menjadi motif hias dalam seni tekstil tradisional, seperti tenun cual, batik, dan kain hias lainnya. Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa Nelumbo nucifera dipilih karena memiliki bentuk visual yang estetis serta nilai simbolik yang kuat, seperti kesucian, keteguhan, keharmonisan, dan kebijaksanaan. Pada konteks tenun cual dan batik, motif bunga lotus tidak hanya berfungsi sebagai unsur dekoratif, tetapi juga sebagai representasi makna budaya dan filosofi hidup masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan bunga lotus sebagai motif tekstil tradisional mencerminkan perpaduan antara keindahan alam, nilai budaya, dan warisan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan aja juga kepercayaan Dalam budaya Tiongkok bunga lotus (nelumbo nucifera) melambangkanKesucian dan kemurnian moral.
Bunga lotus dikenal sebagai bunga yang tumbuh dikolam dan air keruh, namun mampu mekar dengan anggun dan bersih. Filosofi inilah yang menginspirasi para perajin kain cual. Dalam setiap helai kain bermotif lotus, tersimpan pesan tentang keteguhan hati, kesucian, dan harapan—bahwa manusia dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik meskipun hidup di tengah berbagai tantangan. Proses pembuatan kain cual bermotif bunga lotus membutuhkan ketelatenan tinggi. Pola lotus digambar dengan cermat, kemudian benang emas atau perak disisipkan secara perlahan menggunakan teknik tenun tradisional. Setiap lengkungan kelopak bunga disusun dengan penuh kesabaran, mencerminkan sikap hidup masyarakat Bangka Belitung yang tekun dan menghargai proses.
Bagi masyarakat setempat, kain cual bukan sekadar kain. Ia kerap digunakan dalam acara adat, pernikahan, dan upacara penting lainnya. Motif bunga lotus pada kain cual sering dimaknai sebagai doa agar pemakainya memiliki hati yang bersih, hidup yang seimbang, serta masa depan yang cerah. Dengan mengenakan kain cual bermotif bunga lotus, seseorang seolah membawa pesan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah arus modernisasi, kehadiran kain cual bermotif bunga lotus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga identitas budaya. Para perajin terus berupaya mempertahankan motif ini, sambil menyesuaikannya dengan selera masa kini agar tetap diminati generasi muda. Dengan demikian, kisah bunga lotus di atas kain cual tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus mekar sebagai simbol budaya yang hidup. Kain cual bermotif bunga lotus adalah bukti bahwa selembar kain mampu menyimpan cerita tentang alam, nilai kehidupan, dan jati diri suatu daerah. Seperti bunga lotus yang mekar di atas air, kain cual pun terus berkembang, membawa keindahan dan makna dari Bangka belitung di mata dunia.
Gambar 1. Bunga teratai lotus (Nelumbo nucifera )
Oleh karna itu Dalam berbagai literatur ilmiah, bunga lotus dikenal sebagai simbol universal. lotus dalam seni tradisional Nusantara melambangkan kesucian jiwa dan kebangkitan spiritual. Hal ini sejalan dengan pemaknaan yang disampaikan pengrajin Batik Maslina, bahwa motif lotus mencerminkan harapan agar pemakainya tetap teguh dan bermartabat.Selain itu, motif flora pada batik dan kain tradisional Indonesia sering diadaptasi dari lingkungan sekitar sebagai bentuk pendidikan ekologis tidak langsung. Kain cual Maslina menjadikan flora sebagai media pembelajaran budaya bagi generasi mudah.industri kreatif berbasis budaya, keberlanjutan kain tradisional sangat bergantung pada kemampuan pengrajin menggabungkan nilai tradisi dan inovasi modern. Batik Maslina berhasil melakukan hal ini dengan mempertahankan motif tradisional, namun tetap mengikuti selera pasar masa kini.
Kunjungan ini bukan sekadar memahami, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya. Mahasiswa tidak hanya melihat produk kain cual , tetapi memahami makna di balik motif. kunjungan lapangan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian budaya local.
Koordinator Etnobiologi: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP,MP.
