BabelMendunia.com, Tegalgondo, 21 Agustus 2026 — Mengusung misi meningkatkan kesadaran akan keselamatan dalam olahraga sejak usia dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKN MAS) Kelompok 57 menggelar edukasi interaktif mengenai penanganan dini cedera olahraga. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, dengan melibatkan para remaja yang tergabung dalam Sekolah Sepak Bola (SSB) Desa Tegalgondo.
Kegiatan ini menjadi langkah edukatif bagi para atlet muda untuk memahami pentingnya penanganan cedera secara tepat, terutama saat beraktivitas di lapangan. Program tersebut juga diperkuat melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Fisioterapi dari kelompok KKN lainnya.
Kolaborasi tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam, ilmiah, dan aplikatif mengenai cedera olahraga. Para peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai jenis-jenis cedera, tetapi juga dibekali pengetahuan dasar mengenai kondisi fisik dan langkah pertolongan pertama yang tepat ketika mengalami cedera.
Sepak bola merupakan olahraga yang melibatkan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi sehingga memiliki risiko cedera yang cukup besar. Cedera seperti kram, memar, keseleo, hingga cedera otot dapat terjadi kapan saja selama latihan maupun pertandingan. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN MAS memberikan edukasi agar para atlet muda memiliki pengetahuan dasar dalam memberikan pertolongan pertama dan tidak melakukan tindakan yang justru dapat memperparah cedera.
Edukasi tersebut juga menjadi sarana untuk meluruskan sejumlah kebiasaan yang masih berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa cedera akut, khususnya keseleo, harus segera diurut atau dipijat.
“Masih ada mitos yang berkembang di masyarakat bahwa ketika mengalami cedera otot atau keseleo harus dibawa ke tukang urut. Padahal, mengurut atau memijat cedera akut justru dapat memperparah kondisi jaringan dan memperlambat proses pemulihan. Kami ingin menanamkan pola pikir sport science sejak dini agar kondisi fisik para atlet muda dapat terjaga secara optimal,” ungkap Eka Khafiz Riyanto selaku Koordinator Lapangan.
Tidak hanya disampaikan melalui teori, edukasi dikemas secara interaktif melalui simulasi langsung di pinggir lapangan. Para remaja SSB Tegalgondo diperkenalkan pada prinsip penanganan awal cedera menggunakan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation).
Dalam sesi praktik, peserta diajarkan langkah-langkah dasar seperti mengistirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera, melakukan kompres dingin, memberikan kompresi secara tepat, serta melakukan elevasi pada bagian tubuh yang mengalami pembengkakan. Peserta juga diperkenalkan dengan teknik pemasangan taping pada area tubuh yang rentan mengalami cedera.
Pelatih Kepala SSB Tegalgondo memberikan apresiasi terhadap kegiatan edukasi yang dilakukan mahasiswa KKN MAS. Menurutnya, pengetahuan mengenai penanganan cedera sangat penting bagi para pemain muda, mengingat aktivitas latihan dan pertandingan memiliki risiko cedera yang cukup tinggi.
“Ini ilmu yang sangat penting bagi anak-anak didik kami. Sekarang mereka menjadi lebih mandiri, tanggap, dan tidak panik ketika ada teman satu tim yang terjatuh atau mengalami cedera saat latihan maupun pertandingan. Pengetahuan ini juga sangat membantu dalam menjaga kondisi fisik anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk kontribusi yang berkelanjutan, mahasiswa KKN MAS Kelompok 57 menutup kegiatan dengan menyerahkan perlengkapan taping dan First Aid Kit (tas P3K) kepada manajemen SSB Desa Tegalgondo. Perlengkapan tersebut diharapkan dapat menjadi inventaris tim yang siap digunakan dalam setiap sesi latihan maupun pertandingan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MAS Kelompok 57 tidak hanya memberikan edukasi mengenai penanganan cedera, tetapi juga berupaya membangun kesadaran akan pentingnya keselamatan dan kesehatan dalam aktivitas olahraga sejak usia dini. Dengan bekal pengetahuan tersebut, para atlet muda diharapkan mampu lebih sigap, tepat, dan bertanggung jawab dalam menghadapi risiko cedera di lapangan.














