
Talkshow Ramadhan Istimewa Episode 22 yang disiarkan melalui kanal YouTube Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bangka Belitung hari ini. Menghadirkan Ade Mayasanto, Pemimpin Redaksi Bangka Pos, dialog ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kondisi zaman: “Media, Etika, dan Spirit Ramadhan.”
Ade Mayasanto bukanlah sosok asing di dunia pers, meski ia mengawali langkahnya dari latar belakang pendidikan Teknik Mesin. Perjalanannya dari seorang mahasiswa yang “tersesat” di UKM Jurnalistik hingga mencicipi pengalaman di Radar Republika, membawanya pada satu kesadaran fundamental: jurnalisme adalah soal kerendahan hati untuk terus belajar sebelum bisa bertanya.
Dalam talkshow ini, Ade menyoroti tantangan berat media di era Artificial Intelligence (AI). Saat ini, suara hingga gaya bahasa seseorang dapat direkayasa dengan mudah. Di tengah ancaman “rekayasa fakta” ini, media dituntut untuk kembali ke khittahnya: mengungkapkan fakta terbaik dengan menjunjung tinggi etika.
“Media harus memiliki sifat jujur, amanah, terpercaya, dan berkeadilan,” tegas Ade. Ia memandang Ramadhan sebagai momentum menyucikan diri sekaligus penguat bagi insan pers untuk mengendalikan diri dari godaan mengabaikan etika demi sekadar viralitas.
Satu hal menarik yang dibahas adalah bagaimana media lokal seperti Bangka Pos bertahan sebagai bisnis tanpa menggadaikan marwahnya. Ade menjelaskan adanya kolaborasi antara tim bisnis dan redaksi yang dipisahkan oleh sekat evaluasi yang ketat.
Meski kini Bangka Pos telah bertransformasi ke ranah online, media sosial, dan YouTube untuk mengikuti perkembangan zaman, satu hal yang tidak boleh berubah adalah kepercayaan (trust).
“DNA kami adalah kepercayaan. Pengaruh digital mungkin terasa absolut, namun fakta empiris yang teruji oleh indra adalah benteng pertahanan terakhir melawan opini yang sekadar ‘omon-omon’,” ungkapnya.
Ade juga menyinggung peran krusial pers dalam menjaga ukhuwah (persaudaraan) di bulan suci ini. Mengingat media bisa menjadi ruang perpecahan jika salah dikelola, fungsi kontrol sosial harus dikedepankan. Ia mengingatkan bahwa teknologi komunikasi membuat masalah semakin kompleks, di mana kebohongan yang diulang-ulang secara masif bisa dianggap sebagai kebenaran oleh audiens.
Namun, ia tetap optimis. Di tengah kritik terhadap pendidikan di Indonesia, Ade melihat pers masih berperan besar dalam membangun narasi positif bahwa kualitas intelektual bangsa tidaklah serendah yang dikhawatirkan banyak pihak.
Bagi anak muda yang ingin terjun ke dunia aktivisme maupun jurnalistik, Ade menitipkan pesan sederhana namun mendalam:
Kemauan: Segalanya dimulai dari niat dan kemauan untuk mencoba.
Asah Literasi: Perdalam bacaan, baik dari Al-Qur’an sebagai sumber ilmu utama maupun literatur filsafat untuk menajamkan logika.
Jaga Kepercayaan: Trust bukan hanya soal institusi, tapi juga personal branding. Merawat kepercayaan dan jaringan pertemanan adalah aset terbesar dalam dunia profesional.
Sebagai penutup, Ade Mayasanto menekankan bahwa integritas di masyarakat hanya bisa dicapai dengan ketaatan pada hukum dan Kode Etik Jurnalistik. Di bulan Ramadhan yang penuh godaan ini, kode etik bukan sekadar aturan di atas kertas, melainkan pegangan hati agar tetap teguh di jalan yang benar.
“Jalani kode etik dengan sepenuh hati, karena godaan di luar sana sangat besar,” pungkasnya. Ramadhan kali ini menjadi pengingat bagi kita semua, baik pembuat maupun konsumen media, untuk kembali pada fakta, etika, dan kebenaran.