BabelMendunia.com, BELINYU, BANGKA BELITUNG – Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak usia sekolah dasar. Melihat perkembangan tersebut, dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengenalkan AI, literasi digital, dan numerasi kepada siswa sekolah dasar di Dusun Air Abik, Kabupaten Bangka.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 dan dipusatkan di SD Negeri 24 Belinyu. Kegiatan mengangkat tema “Edukasi Artificial Intelligence dan Numerasi sebagai Upaya Mengenalkan AI Sejak Dini di Dusun Air Abik.”
Kegiatan ini dipimpin oleh Putri Cahyani Agustine, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Matematika Unmuh Babel, selaku ketua tim pengabdian, bersama Farah Mawaddah, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Sipil, sebagai anggota tim, serta melibatkan mahasiswa KKN.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan konsep dasar AI menggunakan bahasa sederhana dan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. AI dijelaskan sebagai teknologi yang memungkinkan komputer atau sistem digital melakukan berbagai tugas yang membutuhkan kemampuan tertentu, seperti mengenali pola, memahami bahasa, memberikan rekomendasi, dan membantu manusia menyelesaikan pekerjaan.
Untuk memudahkan pemahaman, tim pengabdian memberikan sejumlah contoh teknologi yang telah akrab dengan kehidupan siswa, seperti Google Translate, ChatGPT, Siri, Google Assistant, rekomendasi video di YouTube, Google Maps, hingga kamera pada telepon pintar yang dapat mengenali wajah dan objek tertentu.
Melalui contoh tersebut, siswa diajak memahami bahwa AI sebenarnya bukan teknologi yang jauh dari kehidupan mereka. Ketika menggunakan YouTube atau TikTok, misalnya, sistem rekomendasi dapat menampilkan konten berdasarkan aktivitas dan minat pengguna. Sementara itu, Google Maps memanfaatkan teknologi untuk membantu pengguna menemukan rute perjalanan.
Selain mengenalkan manfaat AI, tim pengabdian juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Siswa diberikan pemahaman bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai teman belajar, misalnya untuk mencari ide, memahami materi pelajaran, membuat gambar, maupun berlatih mengerjakan soal.
Namun, AI tidak boleh digunakan sebagai jalan pintas untuk menggantikan proses berpikir. Siswa tetap didorong untuk memahami materi, memeriksa informasi, dan menyelesaikan persoalan dengan kemampuan mereka sendiri. Prinsip tersebut sejalan dengan pentingnya penggunaan AI dalam pendidikan secara bertanggung jawab, dengan tetap menempatkan peserta didik sebagai pihak yang aktif dalam proses pembelajaran.
Selain AI, siswa juga mendapatkan penguatan mengenai literasi numerasi. Numerasi diperkenalkan sebagai kemampuan menggunakan angka dan konsep matematika untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh yang diberikan pun dekat dengan aktivitas masyarakat, seperti menghitung uang, membaca waktu, menghitung luas kebun, menghitung hasil panen, hingga membaca grafik sederhana. Siswa kemudian diajak menyelesaikan berbagai persoalan numerasi sederhana agar mereka dapat memahami bahwa matematika tidak hanya digunakan dalam buku pelajaran, tetapi juga dalam kehidupan nyata.
Menariknya, tim pengabdian juga memperlihatkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam pembelajaran matematika. Salah satu contoh yang diberikan adalah penggunaan AI untuk membantu menjelaskan cara menghitung luas persegi panjang. AI dapat memberikan penjelasan bahwa luas persegi panjang diperoleh melalui perkalian panjang dan lebar.
Meski demikian, siswa tetap ditekankan untuk memahami proses perhitungannya, bukan sekadar menerima jawaban dari AI. Dengan demikian, teknologi diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran yang dapat memperkuat pemahaman, bukan menggantikan kemampuan berpikir siswa.
Tidak hanya berfokus pada AI dan numerasi, kegiatan pengabdian juga mengajak siswa memahami pentingnya menjaga infrastruktur dan fasilitas bersama. Siswa diperkenalkan dengan berbagai fasilitas yang mendukung kehidupan masyarakat, seperti sekolah, jalan, jembatan, air bersih, jaringan internet, dan listrik.
Melalui materi tersebut, siswa diajak memahami bahwa fasilitas umum harus dirawat dan digunakan secara bertanggung jawab. Jalan yang rusak dapat menghambat mobilitas masyarakat, sekolah yang bersih dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman, sementara akses internet yang baik dapat mendukung proses pembelajaran.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya literasi digital dan numerasi sejak usia sekolah dasar. Siswa diharapkan tidak hanya mengenal AI, tetapi juga mampu memahami manfaat dan batas penggunaannya, meningkatkan kemampuan numerasi, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan fasilitas bersama.
Pesan yang disampaikan kepada siswa pun sederhana, tetapi memiliki makna penting: AI adalah alat bantu, numerasi membantu manusia berpikir, dan infrastruktur harus dijaga bersama.
Kegiatan ditutup dengan ajakan kepada siswa untuk menjadi generasi yang cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab melalui semangat, “Ayo Belajar AI dengan Bijak untuk Masa Depan Desa yang Lebih Maju.”
Bagi tim pengabdian, pengenalan AI sejak sekolah dasar bukan sekadar upaya membuat anak mampu menggunakan teknologi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir, belajar, berkreasi, dan bertanggung jawab.
Tim pengabdian turut menyampaikan terima kasih kepada LPMPP Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung atas dukungan dan kesempatan yang diberikan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik.








