Indeks

Artificial Intelligence (AI) di Lingkungan Sekolah Dasar: Peluang bagi Guru dan Tantangan bagi Siswa

Oleh: Salma Aprilia

BabelMendunia.com, Perkembangan teknologi digital saat ini telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Salah satu inovasi yang telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Artificial Intelligence (AI) adalah kemampuan mesin atau komputer yang dapat meniru kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, berpikir, bernalar, dan menyelesaikan masalah (Rojabi, 2025). Tujuan pengembangan AI adalah untuk menciptakan sistem yang mampu beroperasi secara mandiri, cerdas dalam mengambil keputusan, serta dapat beradaptasi dengan situasi baru. Kehadiran AI semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari dengan penggunaan aplikasi seperti Chat GPT, Gemini, Canva AI, dan aplikasi pembelajaran digital lainnya yang berbasis AI.

Di dunia pendidikan, AI sudah mulai digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. AI dapat membantu guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal, mencari referensi materi, serta mengembangkan media pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa. Menurut Mulyati ningsih et al. (2025) teknologi digital seperti AI dapat membantu guru mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih berkualitas dan inovatif. Sementara itu, manfaat AI terhadap siswa dapat membantu mereka dalam memahami materi pelajaran, mengatasi kesulitan belajar, dan mempercepat proses pembelajaran mereka (Sudipa et al., 2025). Dengan demikian, AI dapat memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk memperoleh informasi dan pengetahuan dalam waktu yang singkat.

Namun, pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan dapat menimbulkan berbagai perdebatan. Di satu sisi, ada yang menganggap bahwa AI ini mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran dan dapat membantu guru dalam melakukan tugasnya. Di sisi lain, ada yang menganggap bahwa penggunaan AI yang tidak terkontrol dapat menyebabkan ketergantungan pada teknologi, mengurangi kemampuan berpikir kritis siswa, memunculkan berbagai persoalan tentang etika, regulasi, serta batasan dan potensi AI (Zakiyahet al., 2024). Oleh karena itu, penting untuk mengkaji lebih dalam bagaimana peluang yang diberikan AI untuk guru sekaligus tantangan apa yang akan dihadapi siswa dalam pemanfaatannya di sekolah dasar.

Kehadiran AI memberikan banyak peluang bagi guru sekolah dasar dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu manfaat yang paling dirasakan adalah dapat meringankan beban administrasi, sehingga guru bisa lebih fokus dalam mengelola kelas dan melakukan pengajaran kepada siswa (Nurdianah, 2024). Administrasi ini biasanya meliputi modul ajar, bahan ajar, tujuan pembelajaran, program semester dan tahunan, asesmen pembelajaran, serta administrasi lainnya (Fujianti, 2025). Dengan bantuan AI, proses administrasi yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Meskipun demikian, hasil yang diberikan AI masih perlu ditinjau oleh guru karena AI tidak selalu memberikan informasi yang akurat dan sesuai dengan karakteristik siswa.

Selain itu, AI dapat membantu guru menemukan ide-ide kreatif dalam proses pembelajaran. Melalui teknologi AI, guru dapat mencari inspirasi tentang pembuatan permainan edukasi, proyek pembelajaran, cerita interaktif, serta media pembelajaran yang menarik untuk memotivasi siswa dalam proses pembelajaran. Dengan penggunaan media yang tepat, proses pembelajaran dapat menjadi lebih aktif, interaktif, menyenangkan, dan efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa (Mulfajril et al., 2023). Oleh karena itu, proses pembelajaran diharapkan tidak hanya terpaku pada buku teks saja, tetapi dapat dikembangkan melalui media pembelajaran yang menarik sehingga dapat membuat pengalaman belajar siswa menjadi lebih menyenangkan dan bermakna.

Penggunaan AI di sekolah dasar dapat membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang digunakan guru untuk memenuhi kebutuhan siswa di kelas melalui kesiapan belajar, kebutuhan belajar, serta profil belajar siswa (Faiz et al., 2022). Hal ini sejalan dengan prinsip kurikulum merdeka yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, di mana proses belajar disesuaikan dengan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa. Oleh karena itu, dengan bantuan AI guru dapat memvariasikan metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa.

Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan dalam proses pembelajaran, pemanfaatan AI di sekolah dasar perlu dilakukan secara bijak. Pada tingkat sekolah dasar, siswa masih berada pada tahap perkembangan sehingga memerlukan pendampingan dalam penggunaannya. Salah satu tantangan penggunaan AI bagi siswa adalah munculnya ketergantungan kognitif, di mana siswa cenderung mengandalkan AI sepenuhnya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru tanpa benar-benar memahami informasi yang diberikan oleh AI. Jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus, siswa dapat menjadi terbiasa menerima jawaban secara instan tanpa melalui proses berpikir, sehingga siswa dapat mengalami kehilangan makna dalam proses belajar mereka.

Ketergantungan berlebihan terhadap AI tanpa melalui proses berpikir dapat menyebabkan menurunnya kemampuan berpikir kritis siswa. Sejalan dengan pendapat Mochtar dan A’yun (2024) bahwa ketergantungan berlebihan terhadap AI dapat berisiko melemahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Meskipun demikian, dengan adanya risiko ini penggunaan AI bukan berarti harus dijauhkan dari dunia pendidikan, melainkan hal tersebut dapat diminimalkan melalui peran aktif keluarga dan guru untuk melakukan pendampingan dalam penggunaannya. Jika AI digunakan hanya untuk mendapatkan jawaban instan, maka kemampuan berpikir kritis siswa akan menurun. Sebaliknya, jika AI digunakan sebagai alat bantu, AI justru dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa. Setyawan & Koeswanti (2021) menyatakan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran berbasis masalah. Dengan demikian, masalah utama penggunaan AI bukan terletak pada penggunaannya, melainkan bagaimana cara kita memanfaatkan teknologi tersebut dalam proses pembelajaran.

Penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan dalam menggunakannya, tetapi juga menyangkut etika digital dalam pemanfaatannya. Pada tingkat sekolah dasar, pemahaman mengenai etika digital sangatlah penting karena siswa masih berada pada tahap perkembangan dan pembentukan karakter. Tanpa pemahaman etika yang baik, penggunaan AI berisiko mendorong siswa berperilaku kurang mencerminkan integritas akademik. Integritas akademik menurut Hafizha (2021) mencakup nilai kejujuran, kepercayaan, menghargai, keadilan, dan rasa tanggung jawab dalam menjalankan tuntutan akademik. Salah satu perilaku yang tidak mencerminkan integritas akademik adalah mengakui hasil yang didapatkan dari AI sebagai hasil pemikiran sendiri. Oleh karena itu, jika kebiasaan ini dibiarkan terus-menerus, siswa berpotensi kehilangan kesempatan dalam mengembangkan perilaku-perilaku yang mencerminkan integritas akademik.

Meskipun berbagai tantangan masih menjadi perhatian, kehadiran AI di lingkungan sekolah dasar merupakan sebuah inovasi baru di bidang teknologi yang tidak dapat dihindarkan. AI hadir dalam dunia pendidikan bukanlah sebuah ancaman, melainkan sebuah alat yang dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran apabila digunakan secara bijaksana. Sejalan dengan pendapat Zakiyah et al. (2024) penggunaan AI di dunia pendidikan telah memberikan manfaat yang signifikan dan telah menciptakan banyak perubahan. Hal ini diperkuat oleh Nuha et al. (2024) bahwa AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi peran guru dalam dunia pendidikan, tetapi AI harus dipahami sebagai alat yang dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran.

Penggunaan AI tidak dapat menggantikan peran guru sepenuhnya dalam proses belajar yang harus dialami oleh siswa. Pada tingkat sekolah dasar, tujuan pembelajaran bukan hanya sekadar mendapatkan hasil akhirnya, tetapi juga berfokus pada pembentukan karakter siswa, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian belajar siswa. Oleh karena itu, jika siswa selalu bergantung pada AI saat menyelesaikan tugas, maka tujuan pendidikan tersebut akan berpotensi tidak tercapai secara optimal. Dengan demikian, keberhasilan pemanfaatan AI di sekolah dasar tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologinya, melainkan pada kemampuan guru dan siswa dalam menggunakan teknologi ini secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Berbagai peluang dan tantangan penggunaan AI di sekolah dasar masih memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan AI di sekolah dasar diperkirakan akan semakin meluas dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan berbagai strategi agar pemanfaatan AI dapat memberikan dampak positif sekaligus dapat meminimalkan dampak negatifnya. Strategi pertama yang dapat dilakukan adalah penyusunan kebijakan dan pedoman penggunaan AI oleh pemerintah dan lembaga pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Kebijakan ini perlu mengatur penggunaan AI di sekolah dasar, perlindungan data siswa, serta menekankan prinsip etika digital dan unsur budaya dalam penggunaannya.

Kedua, peningkatan kompetensi digital guru yang masih perlu diprioritaskan. Guru tidak hanya dituntut mampu menggunakan AI, tetapi juga harus mampu mengevaluasi hasil yang diberikan oleh AI, memilih informasi yang akurat, serta dapat mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran secara bermakna. Selain itu, guru perlu diberikan pelatihan dan pembinaan berkaitan dengan teknologi secara berkelanjutan agar dapat memanfaatkan dan memberikan arahan penggunaan AI secara efektif sesuai dengan perannya sebagai pendidik.

Ketiga, pendidikan literasi digital dalam penggunaan AI yang perlu diperkenalkan sejak sekolah dasar. Siswa sekolah dasar perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan AI secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab sesuai dengan empat pilar literasi digital. Empat pilar literasi digital ini meliputi digital skills, digital culture, digital ethics, dan digital safety (Wardani et al., 2023). Dalam penggunaan AI, siswa perlu diberikan pemahaman bahwa AI merupakan alat bantu dalam proses belajar, bukan sebagai pengganti dalam proses berpikir. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemandirian belajar siswa dapat berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi dan tujuan pembelajaran ditingkat sekolah dasar.

Keempat, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu diperkuat dalam mendampingi siswa menggunakan AI. Para orang tua perlu mendapatkan pemahaman yang memadai mengenai manfaat dan risiko penggunaan AI sehingga orang tua dapat mendampingi anak saat menggunakan teknologi di rumah. Melalui kerja sama yang baik antara guru, keluarga, dan masyarakat, penggunaan AI dapat mendukung perkembangan kognitif dan integritas akademik.

Dengan berbagai upaya tersebut, penggunaan AI diharapkan tidak hanya mempermudah pekerjaan guru, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengesampingkan nilai kemanusiaan, karakter, dan kemampuan berpikir kritis siswa yang menjadi tujuan utama pendidikan sekolah dasar. Oleh karena itu, pemanfaatan AI di sekolah dasar perlu diarahkan secara bijak melalui kolaborasi antara guru, keluarga, sekolah, dan pemerintah agar teknologi ini dapat mendukung pembelajaran tanpa mengurangi peran guru maupun proses berpikir siswa.

DAFTAR PUSTAKA:

Faiz, A., Pratama, A., & Kurniawaty, I. (2022). Pembelajaran berdiferensiasi dalam program guru penggerak pada modul 2.1. Jurnal Basicedu, 6(2), 2846–2853.

Fujianti, I. (2025). Pelaksanaan pengelolaan administrasi guru dalam kegiatan belajar mengajar. ARJI: Aksi Riset Jurnal Indonesia, 7(3), 1815–1826.

Hafizha, R. (2021). Pentingnya integritas akademik. Journal of Education and Counseling (JECO), 1(2), 115–124.

Mochtar, N., & A’yun, D. Q. (2024). Peran filsafat dalam mengembangkan pola pikir kritis siswa di era AI. Jurnal Media Akademik (JMA), 2(12).

Mulfajril, R., Hadiyanto, & Sofyan, H. (2023). Penggunaan media visual dalam pembelajaran kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Tematik Dikdas, 8(1), 40–45.

Mulyatiningsih, E., Kharismawati, A., & Trilisiana, N. (2025). Pendampingan penyusunan perangkat pembelajaran menggunakan bantuan artificial intelligence (AI). Jurnal Abdi Insani, 12(9), 4469–4477.

Nuha, M. U., Atikoh, N., Safitri, M., Khoiriyah, U., & Alhasan, K. S. (2024). AI dan guru di dunia pendidikan: Bukan kompetisi, tapi kolaborasi. Jurnal Ilmu Sosial, Sains, dan Teknologi.

Nurdianah, L. (2024). Pemanfaatan artificial intelligence sebagai bentuk transformasi digital dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Abadimas Adi Buana.

Rojabi, A. (2025). Pengantar artificial intelligence (AI).Afdan Rojabi Publisher.

Setyawan, M., & Koeswanti, H. D. (2021). Pembelajaran problem based learning terhadap berpikir kritis peserta didik sekolah dasar. Mimbar PGSD Undiksha, 9(3), 489–496.

Sudipa, I. G. I., Adnyana, I. N. W., Kusuma, A. S., Wiguna, I. K. A. G., Udayana, I. P. A. E. D., Artha, I. P. M. K., Radhitya, M. L., Wijaya, B. K., Astari, G. A. S. D., Suandana, N. P. W., & Kherismawati, N. P. E. (2025). Literasi pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam mendukung pembelajaran anak sekolah dasar. Journal of Social Work and Empowerment, 4(2).

Wardani, A., Hayati, K., Suprayitno, D., & Hartanto. (2023). Gen Z dan empat pilar literasi digital. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN), 4(4), 3995–4002.

Zakiyah, N. U., Ameera, V., Ritonga, A. E., Aisah, N., Lingga, S. A., & Akmalia, R. (2024). Penggunaan AI dalam dunia pendidikan. MAHIRA: Journal of Arabic Studies, 4(1).

Exit mobile version