Indeks

AI dalam Pendidikan: Inovasi yang Membantu Belajar, Bukan Pengganti Guru

Oleh: Nabila Citra, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Screenshot

BabelMendunia.com, Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Berbagai aplikasi seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Microsoft Copilot kini banyak dimanfaatkan oleh guru maupun peserta didik untuk mencari informasi, menyusun bahan ajar, membuat media pembelajaran, hingga membantu memahami materi pelajaran.

Kehadiran AI menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian dari proses belajar yang tidak dapat dihindari (Unesco, 2023). Meskipun memberikan banyak kemudahan, muncul anggapan bahwa AI suatu saat dapat menggantikan peran guru. Menurut saya, anggapan tersebut kurang tepat. Pendidikan tidak hanya bertujuan menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan kemampuan berpikir peserta didik. Oleh karena itu, AI seharusnya dipandang sebagai alat yang membantu proses pembelajaran, bukan sebagai pengganti guru. Esai ini membahas manfaat dan tantangan penggunaan AI serta alasan mengapa guru tetap memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan.

 

Peluang dan Tantangan AI dalam Pembelajaran

Penggunaan AI memberikan banyak manfaat dalam pembelajaran. Guru dapat memanfaatkannya untuk menyusun modul ajar, membuat soal, mencari referensi, dan mengembangkan media pembelajaran sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien dan guru memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi peserta didik (Harianto et al., 2025). Sementara itu, peserta didik dapat memperoleh informasi dengan cepat, memahami materi dari berbagai sumber, serta belajar secara lebih mandiri Di balik manfaat tersebut, penggunaan AI juga menghadirkan beberapa tantangan.

Kemudahan memperoleh jawaban dapat membuat peserta didik bergantung pada teknologi dan mengurangi kemampuan berpikir kritis apabila digunakan tanpa pengawasan (Perkins et al.,2024). Selain itu, AI tidak selalu menghasilkan informasi yang akurat sehingga pengguna tetap perlu memverifikasi informasi dari sumber yang terpercaya (Feb et al., 2023). Penggunaan AI juga harus disertai dengan etika akademik agar tidak mendorong plagiarisme atau penyalahgunaan teknologi. Oleh karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung pembelajaran, sedangkan keberhasilan proses belajar tetap bergantung pada peran guru dan peserta didik dalam memanfaatkannya secara bijaksana.

 

AI Cerdas, tetapi Tidak Memiliki Peran Seperti Guru

Meskipun AI mampu mengolah informasi dengan cepat, teknologi ini tidak dapat menggantikan peran guru dalam pendidikan. AI hanya bekerja berdasarkan data dan perintah yang diberikan pengguna, sedangkan guru memahami karakter, kebutuhan, serta perkembangan emosional setiap peserta didik. Oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh interaksi antara guru dan peserta didik.

Di jenjang sekolah dasar, peran guru menjadi semakin penting karena peserta didik masih memerlukan bimbingan dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai, serta mengembangkan kemampuan sosial. AI dapat membantu menjelaskan materi atau menyediakan informasi, tetapi tidak mampu menggantikan peran guru sebagai pembimbing dan teladan. Penelitian juga menunjukkan bahwa AI lebih tepat dimanfaatkan untuk mendukung kreativitas guru daripada menggantikan perannya dalam proses pembelajaran (Boentolo et al., 2024) dan (Soegiarto et al., 2023) Selain itu, penggunaan AI yang tidak disertai bimbingan dapat membuat peserta didik terbiasa memperoleh jawaban secara instan sehingga kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar berisiko menurun. Oleh sebab itu, yang perlu dipersiapkan bukanlah mengganti guru dengan AI, melainkan meningkatkan kompetensi guru agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan tetap menempatkan nilai-nilai pendidikan sebagai prioritas (Harianto et al., 2025).

 

Mengapa Guru tidak akan tergantikan?

Saya berpendapat bahwa AI merupakan inovasi yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan, tetapi tidak dapat menggantikan guru. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan informasi. Pendidikan juga bertujuan membentuk karakter, sikap, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Semua tujuan tersebut membutuhkan peran manusia yang mampu menjadi teladan, memberikan motivasi, dan memahami kondisi peserta didik secara langsung (Unesco, 2023).

Di sisi lain, AI memiliki banyak keunggulan yang sebaiknya dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Guru dapat menggunakan AI untuk menyusun media pembelajaran, mencari referensi, membuat soal evaluasi, maupun merancang kegiatan belajar yang lebih inovatif. Dengan demikian, guru dapat mengurangi beban pekerjaan administratif dan memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan peserta didik. Penelitian juga menunjukkan bahwa pemanfaatan AI mampu meningkatkan kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran selama tetap digunakan secara bertanggung jawab.

Menurut saya, yang menjadi tantangan bukanlah keberadaan AI, melainkan cara menggunakannya. Apabila guru, peserta didik, dan sekolah memiliki literasi digital yang baik, AI akan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebaliknya, jika digunakan tanpa etika dan pengawasan, AI dapat menimbulkan ketergantungan, plagiarisme, serta menurunkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan peran guru menjadi kunci agar AI benar-benar memberikan manfaat dalam dunia pendidikan (Perkins et al., 2024)

Berdasarkan pembahasan tersebut, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan agar AI dimanfaatkan secara tepat dalam dunia pendidikan. Pertama, guru perlu meningkatkan kompetensi digital sehingga mampu menggunakan AI sebagai pendukung pembelajaran, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Kedua, sekolah perlu menyusun aturan penggunaan AI yang jelas agar peserta didik memahami batasan serta etika dalam memanfaatkan teknologi. Ketiga, peserta didik perlu dibiasakan menggunakan AI untuk mencari ide, berdiskusi, atau memahami materi, bukan untuk menyalin jawaban secara langsung. Terakhir, sebagai calon guru sekolah dasar, mahasiswa PGSD perlu membangun kemampuan berpikir kritis dan literasi digital sejak di bangku kuliah agar siap menghadapi perkembangan teknologi di dunia pendidikan. Rekomendasi ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menekankan bahwa keberhasilan penggunaan AI sangat bergantung pada kesiapan guru dan kemampuan pengguna dalam memanfaatkannya secara bertanggung jawab (Unesco, 2023).

Perkembangan Artificial Intelligence telah memberikan banyak peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. AI mampu membantu guru dan peserta didik memperoleh informasi dengan lebih cepat, menyusun bahan ajar, serta menciptakan pembelajaran yang lebih efektif. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat berbagai tantangan, seperti ketergantungan terhadap teknologi, menurunnya kemampuan berpikir kritis, dan munculnya persoalan etika akademik apabila AI digunakan tanpa pengawasan.

Berdasarkan pembahasan dalam esai ini, dapat disimpulkan bahwa AI bukanlah pengganti guru, melainkan alat yang mendukung proses pembelajaran. Guru tetap memiliki peran yang tidak dapat digantikan karena mampu membimbing, memotivasi, serta membentuk karakter peserta didik melalui interaksi secara langsung. Oleh sebab itu, pemanfaatan AI sebaiknya dilakukan secara bijaksana dengan tetap menempatkan guru sebagai tokoh utama dalam pendidikan. Dengan cara tersebut, perkembangan teknologi dapat menjadi peluang untuk meningkatkan mutu pembelajaran tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi tujuan utama pendidikan.

 

Daftar Pustaka

1. Boentolo, F., Manu, C. C. R., Saragih, O. G., & Zalukhu, S. (2024). Peran Guru Memanfaatkan AI dalam Membangun Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas 2045. 5(1), 42–48.

2. Feb, C. Y., Denny, P., & Moore, S. (2023). Generative AI for Education ( GAIED ):

3. Harianto, D., Akib, A., & Wahyu, M. (2025). Efektivitas Penggunaan Artificial Intelligence sebagai Inovasi dalam Pendidikan. 7(2), 184–190.

4. Perkins, M., Furze, L., Roe, J., & Macvaugh, J. (2024). The AI Assessment Scale ( AIAS): A Framework For Ethical Integration Of Generative AI In Educational Assessment.

5. Soegiarto, I., Hasnah, S., Annas, A. N., Sundari, S., & Dhaniswara, E. (2023). Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi Artificial Intelligences ( AI ) Pada Sekolah Kedinasan Di Era Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.O. 3, 10546–10555.

6. Unesco. (2023). Guidance for generative AI in education and research.

 

Exit mobile version