Sholat Zhuhur Berjamaah: Tantangan dan Harapan di Lingkungan Sekolah Dasar

Oleh: (Andella Syahmita, 2201411453 PGSD ) (Elvia Marselina, 2201411295 PGSD ) ( Larasati Irsyadiyah ,2201411454 PGSD) ( Malika , 2201411380 PGSD) ( Novi Rustiyana Dewi, 2201411474 PGSD) ( Nur Hasanah, 2201411445 PGSD ) ( Zaki Rakhmawan , 2201411390 PGSD) ( Amandha ,220241386 PJKR) ( Ikhsan Ardiansyah, 220241433 PJKR) ( Iqrima Rofa Tazkiyah, 220241411 PJKR)

Avatar photo
banner 120x600

BabelMendunia.com, PANGKALPINANG- Sholat berjamaah merupakan salah satu upaya pembinaan sikap religius yang sangat penting dalam lingkungan pendidikan dasar. Sholat berjamaah, khususnya sholat Zhuhur di lingkungan sekolah dasar, tidak hanya melatih anak untuk disiplin dalam menjalankan ibadah, tetapi juga membentuk karakter kebersamaan, tanggung jawab, serta rasa kebersamaan di antara siswa. Sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, termasuk dalam membiasakan siswa melaksanakan sholat berjamaah secara teratur.

Sholat merupakan tiang agama dan kewajiban utama bagi setiap muslim. Di antara lima waktu sholat, sholat zhuhur memiliki kedudukan yang penting karena berada di tengah aktivitas manusia, khususnya pada jam-jam sekolah. Di sekolah dasar, sholat zhuhur seringkali bertepatan dengan waktu belajar atau istirahat siang. Inilah yang menjadikan praktik sholat berjamaah di sekolah tidak selalu mudah untuk diterapkan. Apalagi sekarang setiap sekolah sudah diwajibkan untuk melaksanakan sholat zhuhur berjamaah di lingkungan sekolah dasar sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Di SD Negeri 48 Pangkalpinang faktanya sudah mulai menerapkan hal tersebut, hanya saja masih terdapat beberapa tantangan dan kekurangan yang bisa menjadi penghambat bagi mereka melaksanakan kegiatan tersebut. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SD Negeri 48 Pangkalpinang, ditemukan beberapa tantangan utama dalam pelaksanaan sholat Zhuhur berjamaah di SD Negeri 48 Pangkalpinang ini. Pertama, keterbatasan fasilitas seperti mushola yang sempit dan perlengkapan ibadah yang terbatas menyebabkan sebagian siswa tidak dapat mengikuti sholat berjamaah secara maksimal. Kedua, manajemen waktu menjadi kendala karena padatnya jadwal pelajaran membuat pelaksanaan sholat terkadang terburu-buru. Ketiga, motivasi siswa yang beragam turut memengaruhi kedisiplinan; beberapa siswa masih memandang sholat sebagai kewajiban formalitas, bukan kebutuhan spiritual. Keempat, dukungan guru yang belum konsisten juga menjadi hambatan, karena tidak semua guru mampu menjadi teladan atau ikut mendampingi siswa saat sholat berjamaah.

Baca Juga  Menegakkan Kepercayaan terhadap Guru sebagai Pilar Pendidikan

Tantangan-tantangan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan sholat berjamaah tidak hanya membutuhkan niat baik, tetapi juga dukungan sistem yang kuat dari pihak sekolah. Tantangan ini juga yang menjadi faktor penghambat berlangsungnya sholat zhuhur berjamaah di SD Negeri 48 Pangkalpinang ini. Perlu dilakukan pembenahan agar kegiatan ini bisa berjalan dengan sebagaimana seperti yang di harapkan.

Meskipun menghadapi sejumlah tantangan, terdapat pula harapan besar dari kegiatan sholat Zhuhur berjamaah di sekolah dasar. Guru dan pihak sekolah SD Negeri 48 Pangkalpinang berharap kegiatan ini dapat membentuk karakter religius siswa sejak dini, sehingga mereka terbiasa melaksanakan ibadah secara disiplin dan ikhlas. Selain itu sholat berjamaah juga dianggap mampu menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas, karena siswa berkumpul dalam satu saf tanpa membedakan latar belakang sosial maupun akademik.

Harapan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa sholat berjamaah memiliki potensi besar dalam menanamkan nilai religius, disiplin, dan kebersamaan. Hal ini sejalan dengan teori pendidikan karakter yang menyatakan bahwa kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten sejak dini akan membentuk perilaku permanen dalam kehidupan sehari-hari. Sholat Zhuhur berjamaah bukan hanya kegiatan ritual, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter Islami di sekolah dasar.

Harapan lain yang muncul adalah agar kegiatan sholat berjamaah dapat menjadi sarana pembinaan akhlak yang konsisten, sehingga siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual dan emosional. Bagi guru, sholat berjamaah dapat menjadi momen untuk memberikan keteladanan langsung kepada siswa. Sedangkan bagi pihak sekolah, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan citra positif sekolah sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter.

Baca Juga  Berkembang Bersama Digital Entreprenuership,Mahasiswa Siap hadapi Era 5.0”

Maka dari itu kesimpulan dari pelaksanaan sholat Zhuhur berjamaah di sekolah dasar memiliki peran penting dalam membentuk karakter religius, kedisiplinan, dan kebersamaan siswa. Di SD Negeri 48 Pangkalpinang menunjukkan adanya tantangan berupa keterbatasan fasilitas mushola, waktu yang terbatas akibat padatnya jadwal pelajaran, rendahnya motivasi sebagian siswa, serta kurang konsistennya keterlibatan guru, sehingga keberhasilan kegiatan ini membutuhkan dukungan sarana, pengelolaan waktu yang baik, serta teladan guru. Terdapat pula harapan besar agar siswa terbiasa disiplin beribadah, berakhlak baik, serta memiliki solidaritas sosial, sementara sekolah memperoleh citra positif sebagai lembaga yang menanamkan nilai spiritual dan moral. Sholat Zhuhur berjamaah bukan hanya rutinitas ibadah, melainkan bagian integral dari pendidikan karakter Islami yang harus terus dikembangkan melalui sinergi sekolah, guru, siswa, dan orang tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *