BabelMendunia.com, Bangka Tengah- Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bangka Tengah pada tahun 2025 yang mencapai angka 6,06% patut diapresiasi sebagai salah satu capaian pembangunan daerah. Angka tersebut bahkan tercatat sebagai yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun di balik pencapaian tersebut, muncul sebuah paradoks yang tidak bisa diabaikan: tingkat kemiskinan justru meningkat menjadi 6,70%. Sebuah fakta yang menghasilkan tanda tanya baru!
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi belum sepenuhnya bersifat inklusif. Dalam sebuah teori pembangunan ekonomi, fenomena ini sering disebut sebagai jobless growth, yaitu kondisi ketika perekonomian tumbuh tetapi tidak diikuti oleh peningkatan kesempatan kerja yang signifikan. Yang artinya, produksi meningkat, tetapi kesejahteraan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang merata.
Pernyataan yang disampaikan oleh Wakil Bupati Bangka Tengah yang menyebut bahwa peningkatan kemiskinan terjadi karena banyaknya masyarakat yang bekerja di sektor non-formal dan tidak tercatat dalam data statistik justru perlu dikritisi secara lebih mendalam. Penjelasan tersebut cenderung menyederhanakan persoalan struktural yang sebenarnya lebih kompleks.
Pertama, jika sektor non-formal memang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, maka seharusnya pemerintah daerah memiliki strategi untuk memformalkan atau memberdayakan sektor tersebut, bukan sekadar menjadikannya alasan atas meningkatnya angka kemiskinan. Fakta pahit bahwa banyak masyarakat bekerja di sektor informal seperti pertambangan tradisional menunjukkan adanya keterbatasan akses masyarakat terhadap lapangan kerja yang stabil dan terlindungi secara hukum.
Kedua, argumen bahwa masyarakat sebenarnya memiliki penghasilan tetapi tidak tercatat dalam statistik juga tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa angka kemiskinan tetap meningkat. Data kemiskinan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik menggunakan metodologi yang telah terstandarisasi secara nasional. Jika banyak masyarakat yang tetap dikategorikan miskin meskipun bekerja di sektor informal, maka kemungkinan besar pendapatan yang mereka peroleh memang belum cukup untuk memenuhi standar kebutuhan hidup yang layak.
Ketiga, kondisi ini mengindikasikan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi di Bangka Tengah kemungkinan besar lebih banyak didorong oleh sektor-sektor yang tidak padat karya, sehingga peningkatan produksi tidak diikuti oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja. Jika pertumbuhan ekonomi lebih banyak bertumpu pada sektor tertentu yang hanya melibatkan kelompok ekonomi tertentu, maka ketimpangan distribusi kesejahteraan menjadi sulit dihindari.
Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu melihat persoalan ini secara lebih komprehensif. Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari peningkatan angka produksi atau nilai investasi, tetapi juga dari sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Jika pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati oleh pihak-pihak tertentu tanpa penyerapan tenaga kerja yang luas, maka pertumbuhan tersebut berpotensi hanya menguntungkan kelompok ekonomi tertentu. Akibatnya, sebagian masyarakat tetap berada dalam kondisi ekonomi yang rentan meskipun indikator makro ekonomi terlihat positif.
Langkah pemerintah daerah yang mendorong penguatan industri kecil dan sektor padat karya tentu patut diapresiasi. Namun kebijakan tersebut seharusnya tidak hanya menjadi wacana jangka panjang, melainkan perlu segera diwujudkan melalui program nyata yang mampu membuka lapangan kerja yang stabil dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal.
Terakhir, sebagai Masyarakat yang tinggal di Bangka Tengah, saya melihat langsung bagaimana sebagian masyarakat masih bergantung pada sektor informal seperti pertambangan tradisonal. Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya menjadi indikator keberhasilan pembangunan di atas kertas. Keberhasilan pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat secara nyata merasakan peningkatan kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari. Jika angka pertumbuhan tinggi tetapi kemiskinan tetap meningkat, maka sudah seharusnya pemerintah daerah melakukan evaluasi serius terhadap arah dan kualitas pembangunan ekonomi yang sedang dijalankan di Bangka Tengah.
