
Babelmendunia.com Talkshow Ramadhan Istimewa Episode 21 hari ini membawa pesan mendalam bagi generasi muda. Menghadirkan Rahmat Zulkarnain, S.P., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bangka Belitung, diskusi ini membedah tema krusial: “Manifesting Teosentris dalam Aksi Integrasi TAKWA dalam Gerakan Aktivisme Pemuda.”
Rahmat, yang juga dikenal aktif mewarnai media cetak dan online dengan tulisan-tulisannya, mengawali sesi dengan refleksi syukur. Baginya, dipertemukan kembali dengan Ramadhan adalah nikmat yang wajib disyukuri, sebagaimana janji Allah bahwa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat yang berlipat.
Teosentris: Tuhan sebagai Pusat Gerakan
Inti dari manifestasi teosentris yang disampaikan Rahmat adalah meyakini Allah sebagai pusat dari segala tindakan nyata. Bagi pemuda, hal ini harus dimulai dari penataan niat yang melahirkan tiga karakteristik utama:
Ketangguhan Mental: Pemuda tidak boleh mudah “bawa perasaan” (baper). Mereka harus terbuka terhadap nasihat dan kritik sebagai bahan evaluasi diri.
Integritas (Istiqamah): Adanya keselarasan mutlak antara ucapan dan perbuatan. Apa yang didakwahkan harus terpancar dalam perilaku sehari-hari.
Etika Profesional: Menjadikan Ramadhan sebagai “madrasah” untuk mengasah adab dan kesantunan dalam berorganisasi maupun bermasyarakat.
Ramadhan sebagai Tombol ‘Pause’ dan ‘Delete’
Dalam pandangan Rahmat, Ramadhan adalah momentum upgrade diri. Ia mengutip pesan Rasulullah SAW tentang menjaga lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya, dengan penekanan khusus pada masa muda.
“Ramadhan adalah tombol untuk menekan pause atau delete terhadap kebiasaan buruk kita,” ungkapnya. Di era digital, hal ini berarti memfilter penggunaan media sosial agar menjadi ladang investasi pahala, bukan sekadar konsumsi sia-sia. Beliau mengingatkan bahwa pemuda yang senantiasa mengingat Allah adalah golongan yang akan mendapatkan naungan istimewa di akhirat kelak.
Masjid sebagai Titik Balik Digital
Aktivisme pemuda di era digital tidak boleh tercerabut dari akarnya, yaitu masjid. Rahmat mendorong anak muda untuk memakmurkan masjid dan menjadikannya titik balik pergerakan. Dakwah tidak lagi hanya di mimbar, tapi juga melalui pemanfaatan teknologi untuk menyiarkan nilai-nilai Islam. Setiap alat digital yang digenggam pemuda hari ini akan dimintai pertanggungjawabannya.
Tantangan dan Jebakan Pragmatisme
Diskusi menjadi semakin tajam saat membahas tantangan pemuda saat ini. Rahmat menyoroti tiga ancaman besar:
Kehilangan Pendirian: Pemuda yang hanya ikut-ikutan tanpa prinsip yang jelas.
Pragmatisme Sempit: Sikap like and dislike yang membuat pemuda rela menggadaikan idealisme demi kepentingan sesaat.
Sekularisme Tersembunyi: Anggapan bahwa nilai ketuhanan hanya ada di dalam masjid, sementara politik dan sosial bebas dari nilai agama.
“Ketika kita menghilangkan agama dari aktivitas sosial-politik, kita sebenarnya sedang membuang kompas hidup kita,” tegas Rahmat. Ia juga mengingatkan agar agenda rutin seperti “Buka Bersama” (Bukber) tidak terjebak menjadi ajang pamer (riya) yang justru melalaikan ibadah wajib.
Solusi: Ramadhan Sebagai ‘Rest Area’
Sebagai penutup, Rahmat menawarkan solusi reflektif. Ramadhan harus dijadikan sebagai rest area—tempat beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk mengisi ulang (recharge) nilai-nilai spiritual. Dengan spiritualitas yang terisi penuh, pemuda akan tetap berada di jalur yang diridhoi Allah, menjadikan momentum ini sebagai ajang silaturahmi dan saling memaafkan.
Melalui paparan ini, pemuda Muhammadiyah di Bangka Belitung diingatkan kembali bahwa aktivisme bukan sekadar gerakan fisik, melainkan manifestasi dari keimanan yang mendalam kepada Sang Pencipta.






