Masjid sebagai pusat ibadah & dan peradaban

Masjid sebagai Fondasi Peradaban Islam

Avatar photo
banner 120x600


Babelmendunia.com – Pangkalpinang Peradaban adalah tingkat kemajuan suatu umat yang ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, akhlak, budaya, serta tata kehidupan sosial yang berlandaskan nilai-nilai kebaikan. Dalam sejarah Islam, peradaban besar justru lahir dari masjid. Pada masa Nabi Muhammad, masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi menjadi pusat pendidikan, musyawarah, dakwah, bahkan pusat penguatan ekonomi dan persatuan umat.

Secara bahasa, masjid berarti tempat sujud. Namun maknanya jauh lebih luas. Masjid adalah tempat manusia bersandar, mengadu kepada Allah, mencari ketenangan, memperbaiki iman, dan mempererat ukhuwah. Masjid seharusnya terasa seperti rumah sendiri—tempat yang nyaman, terbuka, dan penuh kasih sayang bagi siapa pun yang datang.

Kemegahan bangunan masjid tidak selalu menjadi ukuran lahirnya peradaban. Banyaknya jumlah masjid juga bukan jaminan kuatnya umat. Peradaban lahir dari kualitas iman, ilmu, dan akhlak jamaahnya. Masjid yang hidup adalah masjid yang dipenuhi kegiatan bermanfaat: kajian ilmu, pembinaan pemuda, santunan sosial, dan program pemberdayaan umat.

Dalam sejarah, Rasulullah pernah menanyakan seorang perempuan yang rajin membersihkan masjid ketika beliau tidak melihatnya lagi. Ternyata perempuan itu telah wafat, dan Rasul pun menanyakan di mana kuburnya. Kisah ini menunjukkan betapa mulianya orang yang memakmurkan masjid, walaupun hanya sebagai marbot atau pengurus kebersihan.

Baca Juga  Dari Organisasi ke Energi Terbarukan: Kisah Perjalanan Liano Alam Menjemput Kesuksesan

Pengurus masjid tidak selalu digaji. Banyak di antara mereka yang bekerja dengan penuh keikhlasan. Karena itu, pengurus masjid harus memiliki iman yang kuat, wawasan luas, serta gemar membaca kisah perjuangan Rasulullah agar dapat mengelola masjid dengan bijak dan penuh tanggung jawab.

Peran pemuda sangat penting. Pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid termasuk dalam golongan yang mendapat naungan Allah. Jika ingin membesarkan masjid, libatkanlah pemuda. Kurangnya minat pemuda terhadap masjid seringkali karena kurangnya komunikasi dan pendekatan dari pengurus. Padahal, jika pemuda ditempa di masjid, mereka akan menjadi generasi beradab dan pemimpin masa depan.

Allah mengingatkan dalam Surah At-Taubah bahwa masjid dibangun atas dasar takwa, bukan untuk memecah belah umat seperti kisah Masjid Dirar. Umat Islam adalah ummatan wahidah—umat yang satu. Masjid seharusnya menjadi simbol persatuan, bukan perpecahan

Membangun fisik masjid mungkin bisa selesai dalam satu atau dua tahun. Namun membangun iman dan peradaban membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan keteladanan. Ilmuwan dan tokoh besar Islam pada masa lalu lahir dari lingkungan masjid yang hidup dengan ilmu dan adab

Baca Juga  Timah dan Kehidupan: Mata pencarian sebagian besar masyarakat bangka belitung

Kesimpulan
Masjid adalah pusat ibadah sekaligus pusat peradaban. Dari masjid lahir umat yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Masjid harus hadir di tengah masyarakat sebagai tempat solusi, tempat pendidikan, tempat pemersatu, dan tempat membangun karakter. Jika umat ingin maju dan beradab, kembalilah memakmurkan masjid.
Dengan program yang menyentuh hati—kajian rutin, pembinaan pemuda, santunan sosial, pelatihan keterampilan, dan ruang diskusi umat—masjid akan kembali menjadi pusat kehidupan. Karena sesungguhnya, orang yang membangun dan memakmurkan masjid akan Allah bangunkan untuknya rumah di surga.
Mari kita hidupkan masjid, perbaiki iman, perkuat persatuan, dan bangun peradaban Islam yang mulia dari masjid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *