Opini  

Kain Cual MasLina dan Motif Biji Pare: Perpaduan Seni, Tradisi, dan Makna

Oleh: Dyva Aulya Novitry

Avatar photo
banner 120x600

BabelMendunia.com, Bangka Belitung merupakan salah satu daerah penghasiltenun di Indonesia dikenal dengan nama “cual”. Kain cual memiliki makna dan filosofis yang unik tentang bangka Belitung itu sendiri. Tempat produksi kain cual maslina berada di selindung lama, Gabek, Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, warisan budaya lokal tetap menemukan jalannya untuk bertahan dan berkembang. Salah satunya tercermin dalam Kain Cual Maslina, wastra khas Bangka Belitung yang memadukan keindahan seni tekstil dengan nilai-nilai tradisi Melayu. kain cual tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat Melayu setempat. Di tengah arus modernisasi dan industri tekstil massal, keberadaan kain cual tetap bertahan berkat peran para perajin tradisional, salah satunya adalah Maslina, sosok pengrajin yang konsisten melestarikan kain cual dengan sentuhan khas, terutama melalui Motif Biji Pare.Maslina, sebagai perajin sekaligus penggiat wastra lokal, menghadirkan inovasi dengan tetap berpijak pada pakem tradisi. Ia mengembangkan desain kain cual agar lebih adaptif dengan kebutuhan masa kini, tanpa menghilangkan ciri khas dan makna filosofisnya. Motif Biji Pare yang diangkat Mas lina memiliki makna yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Melayu. Biji pare melambangkan harapan akan rezeki yang berkelanjutan, kesuburan tanah, serta keberlangsungan hidup keluarga dan masyarakat. Perpaduan antara Kain Cual Maslina dan Motif Biji Pare mencerminkan dialog harmonis antara seni dan tradisi. Kain ini bukan sekadar produk tekstil, melainkan media ekspresi budaya yang menyampaikan pesan moral dan identitas lokal. Setiap motif, warna, dan susunan pola menjadi narasi tentang kehidupan masyarakat Bangka Belitung yang dekat dengan alam, menjunjung kerja keras, dan menghargai kebersamaan. Proses pembuatan kain cual sendiri memerlukan ketelitian dan kesabaran tinggi. Kain ini dibuat menggunakan teknik tenun tradisional dengan tambahan benang emas atau perak, yang menjadi ciri utama kain cual. Maslina masih mempertahankan teknik manual, mulai dari pemilihan benang, penyusunan motif, hingga proses penenunan yang bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Motif Biji Pare, meskipun terlihat sederhana, justru membutuhkan ketepatan tinggi agar pola tetap simetris dan harmon

Baca Juga  pola pikir kewirausahaan pada era digital

Keberadaan kain cual bermotif Biji Pare juga memiliki peran penting dalam pelestarian budaya daerah. Di tengah dominasi produk tekstil modern, karya seperti ini menjadi pengingat bahwa warisan leluhur memiliki nilai tinggi, baik secara budaya maupun ekonomi. Kain cual tidak hanya memperkuat identitas lokal, tetapi juga membuka peluang bagi perajin untuk terus berkarya dan berkontribusi pada ekonomi kreatif daerah. Lebih dari sekadar karya seni, kain cual Maslina adalah media narasi budaya. Setiap motif, warna, dan benang yang terjalin menceritakan hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan nilai kehidupan. Motif Biji Pare mengajarkan bahwa kehidupan dibangun dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan kesabaran dan ketulusan. Pesan ini menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan instan.

Baca Juga  PRAKTIK KORUPSI DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Melalui Kain Cual Maslina dan Motif Biji Pare, seni tradisional Bangka Belitung menunjukkan kemampuannya untuk tetap hidup dan bermakna. Perpaduan seni, tradisi, dan filosofi dalam selembar kain menjadi bukti bahwa budaya lokal Indonesia bukan peninggalan masa lalu semata, melainkan warisan hidup yang terus berkembang dan layak dibanggakan. Mas Lina juga aktif memperkenalkan kain cual kepada generasi muda melalui pelatihan dan pameran budaya. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar dalam pelestarian kain tradisional bukan hanya pada proses produksi, tetapi juga pada regenerasi pengrajin dan minat masyarakat. Melalui workshop dan kerja sama dengan sekolah maupun komunitas seni, Mas Lina berupaya menanamkan kebanggaan terhadap kain cual sebagai identitas budaya lokal yang bernilai tinggi.Melalui karya-karyanya, Mas Lina tidak hanya menenun benang, tetapi juga menenun identitas dan harapan. Kain cual bermotif Biji Pare menjadi pengingat bahwa warisan budaya adalah kekayaan yang harus dijaga bersama, agar tetap hidup dan bermakna bagi generasi mendatang.

​​

     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *