BabelMendunia.com, Sembalun, NTB — Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Nusa Tenggara Barat bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sembalun menyelenggarakan pengajian bertema “Meneguhkan 4 Pilar Bermuhammadiyah” pada Senin (3/8/2026) ba’da Magrib di Masjid Nurul Huda, Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan lereng Gunung Rinjani tersebut menghadirkan Ustadz Adi Saputra, M.Pd.I, dosen AIKA FKIP/PJKR Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung sekaligus Ketua Majelis Tabligh PWM Bangka Belitung, sebagai pemateri. Selain aktif dalam dakwah dan pendidikan, Ustadz Adi juga merupakan akademisi yang produktif di bidang penelitian. Salah satu risetnya memperoleh pendanaan hibah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan mengangkat kajian mengenai struktur khutbah Jumat. Penelitian tersebut dilaksanakan di sejumlah daerah, termasuk Pulau Lombok, sehingga kehadirannya di Sembalun tidak hanya dalam rangka memenuhi undangan dakwah, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan sinergi antara aktivitas akademik dan pengabdian kepada masyarakat. Pengajian ini dihadiri oleh jajaran PCM Sembalun, warga Muhammadiyah, serta masyarakat sekitar yang antusias mengikuti kajian hingga selesai.
Memasuki materi utama, Ustadz Adi menjelaskan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan berdiri di atas empat pilar utama, yakni aqidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah. Keempat pilar tersebut menjadi fondasi yang harus dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan setiap warga Muhammadiyah.
Pada pilar pertama, aqidah, ia menegaskan pentingnya memurnikan tauhid kepada Allah Swt. tanpa mencampurkannya dengan praktik syirik, tahayul, bid’ah, maupun khurafat. Menurutnya, kemurnian aqidah merupakan fondasi utama yang melahirkan keteguhan iman dan menjadi arah bagi seluruh aktivitas kehidupan seorang Muslim.
Membahas pilar ibadah, Ustadz Adi mengingatkan bahwa seluruh ibadah mahdhah hendaknya dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah saw. Ibadah yang benar bukan hanya memenuhi syarat dan rukun secara syariat, tetapi juga menghadirkan kekhusyukan dan keikhlasan dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. Prinsip ittiba’ atau mengikuti sunnah Rasulullah menjadi karakter penting dalam praktik keberagamaan warga Muhammadiyah.
Di akhir penyampaiannya, Ustadz Adi mengajak seluruh jamaah untuk terus meneguhkan komitmen bermuhammadiyah dengan memperkuat aqidah, menghiasi diri dengan akhlak mulia, menyempurnakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah saw., serta menghadirkan kebermanfaatan melalui amal usaha dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui pengajian ini diharapkan semangat dakwah Muhammadiyah semakin mengakar di tengah masyarakat Sembalun serta memperkokoh peran persyarikatan sebagai gerakan Islam yang membawa misi dakwah, tajdid, dan pencerahan bagi umat. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa dakwah dan pengembangan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan, sebagaimana ditunjukkan oleh kiprah Ustadz Adi Saputra yang mengintegrasikan peran sebagai pendidik, peneliti, dan mubalig dalam upaya memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat.
