“Dampak Positif dan Negatif dari Pengimplementasian Artificial Intelligence (AI) dalam Ranah Pendidikan”

Oleh : Haura Miska Akilla

Avatar photo
banner 120x600

BabelMendunia.com, Revolusi industri 4.0 telah membawa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ke arah transformasi global, tidak terkecuali dalam sektor pendidikan. Di tengah upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, AI muncul bukan sekadar sebagai alat bantu teknis, melainkan sebagai gagasan baru dalam proses belajar-mengajar. Pemanfaatan teknologi ini meningkatkan efisiensi yang belum pernah ada sebelumnya, mulai dari otomatisasi tugas administratif hingga personalisasi kurikulum yang adaptif terhadap kecepatan belajar setiap individu. Menuruut Ibad et al. (2024) mengungkapkan bahwa Artificial Intelligence memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi proses pembelajaran serta mempermudah akses peserta didik terhadap berbagai sumber informasi akademik.

Namun, implementasi AI dalam dunia pendidikan juga melahirkan tantangan terkait aturan moral dan cara belajar yang tidak mudah diselesaikan. Masalah integritas akademik, potensi bias algoritma, hingga pergeseran peran guru menjadi isu sentral dalam diskursus pendidikan modern. Hal ini sejalan dengan pendapat Hadi dan Ali (2025) yang menyatakan bahwa penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan dapat mengakibatkan penurunan fungsi dan peran guru, serta hilangnya interaksi antar manusia.

Pemanfaatan AI yang tidak bertanggung jawab dapat merugikan orang lain dan menurunkan kreativitas serta keterampilan berpikir kritis siswa sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibad et al. (2024) bahwa penggunaan AI berpotensi menurunkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa, serta memicu persoalan etika akademik seperti plagiarisme. Oleh karena itu, kajian tersebut menekankan pentingnya memahami dampak AI secara komprehensif terhadap perkembangan akademik peserta didik.

Analisis Kritis

A. Dampak Negatif Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Ranah Pendidikan

Teknologi berfungsi untuk mempermudah pekerjaan manusia, namun terkadang ada manusia yang sengaja menggunakan teknologi untuk mengerjakan pekerjaannya. Dalam ranah
pendidikan, sering kali para siswa mencari jawaban di internet tanpa menganalisis apakah jawaban yang diberikan tersebut sudah benar atau belum. Akibat kebiasaan itu, para siswa malas untuk berpikir sehingga jika hal tersebut selalu dilakukan secara terus-menerus akan mengurangi kemampuan berpikir kritis siswa dan menyebabkan siswa bergantung pada penggunaan Artificial Intelligence (AI). Hamid et al. (2024) mengungkapkan bahwa siswa SMP yang menggunakan ChatGPT mengalami penurunan kreativitas, sebab mereka cenderung mengandalkan jawaban langsung dari AI tanpa berusaha merumuskan gagasan secara mandiri. Menurut Nasution et al. (2025) Ketergantungan pada AI juga mengikis motivasi belajar siswa. Karena jawaban tersedia secara instan, rasa ingin tahu dan upaya mendalami materi menjadi hilang. Sikap pasif ini melemahkan nalar dan kemampuan metakognitif siswa dalam mengelola belajarnya sendiri. Parahnya lagi, hal ini dapat memicu pelanggaran etika seperti plagiarisme. Sedangkan menurut Abidin et al. (2025) risiko dari penggunaan AI, seperti berkurangnya interaksi sosial, munculnya isolasi emosional, dan tingginya ketergantungan siswa pada teknologi. Hal ini menjadi isu krusial di pendidikan dasar yang fokus pada pembentukan karakter dan keterampilan sosial. Karena itu, Abidin et al. (2025) menekankan pentingnya integrasi AI yang bijak, dengan tetap menguatkan peran guru sebagai pendamping empatik dan menjaga ruang interaksi antar siswa.

Dalam penggunaan Artificial Intelligence (AI) kita harus berhati-hati dalam menerima informasi karena tidak setiap informasi yang diberikan oleh AI itu selalu benar. Kita sebagai konsumen atau pegguna perlu mengetahui dan memilah dalam menerima dan menyerap informasi yang valid, benar, serta akurat. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Ratnasari, Zabeta, dan Sholeha (2025) mengidentifikasi sejumlah dampak negatif dari penggunaan AI, antara lain munculnya ketergantungan terhadap teknologi, keraguan atas akurasi informasi, terjadinya isolasi sosial, serta timbulnya persoalan etika dan privasi.
Seiring berjalannya waktu, penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang semakin berkembang dikhawatirkan dapat menggeser peran mahasiswa dalam lapangan kerja. Hal ini ditegaskan oleh Salsabilla, Hadi, Pratiwi, dan Mukaromah (2023) yang menemukan bahwa penggunaan kecerdasan buatan menimbulkan sejumlah kekhawatiran di kalangan mahasiswa. Kekhawatiran tersebut meliputi persaingan dalam memperoleh pekerjaan, perbedaan informasi antara AI dengan penjelasan dosen, serta kerentanan keamanan data pribadi.

Baca Juga  Rektor Unmuh Babel Tegaskan Netralitas di tengah Isu Sara Pegawai

B. Dampak Positif Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam Ranah Pendidikan

Artificial Intelligence (AI) dapat bermanfaat di berbagai kalangan, terkhusus dalam ranah pendidikan. Kecerdasan buatan (AI) dapat membantu guru dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif sehingga pembelajaran lebih menarik. Pendapat ini didukung oleh Khairiyah dan Humayah (2025) yang menyatakan bahwa berbagai platform AI seperti ChatGPT, Grammarly, Kahoot!, Socrative, Edpuzzle, Quizlet, dan Turnitin terbukti efektif dalam meningkatkan evaluasi pembelajaran. Platform tersebut tidak hanya mempermudah guru dalam menyusun soal dan menilai hasil belajar, tetapi juga mampu memberikan umpan balik yang bersifat personal kepada siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa AI dapat menjadi alternatif inovatif untuk menjawab tantangan pendidikan di era digital.

Bagi para siswa, AI dapat membantu siswa dalam menggali informasi yang lebih detail dan rinci sehingga dapat menambah wawasan dan keaktifan para siswa di kelas, serta melatih berpikir kritis sehingga dapat mempermudah siswa dalam menyelesaikan masalah. Hal ini selaras dengan pendapat Meiliawati, Zulfitria, dan Sugiarto (2024) dalam studi literatur menyimpulkan bahwa media berbasis AI di SMA memiliki potensi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih personal sesuai kebutuhan siswa. Selain itu, AI juga memfasilitasi pembelajaran berbasis game yang lebih menantang dan interaktif sehingga siswa menjadi lebih aktif. Lebih lanjut, penggunaan media AI berkontribusi pada pengembangan berbagai kompetensi, meliputi penguasaan bahasa asing, berpikir komputasional, kemampuan berdiskusi, serta keterampilan memecahkan masalah. Sedangkan menurut Abidin, Kusmaryono, dan Ulia (2025) AI membawa manfaat signifikan dalam pendidikan. Teknologi ini mampu meningkatkan efektivitas belajar, menyesuaikan materi dengan kemampuan dan gaya belajar masing-masing siswa, serta membantu guru memantau dan mengevaluasi hasil pembelajaran dengan lebih mudah.

Argumentasi

Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dapat memberikan dampak yang positif bagi penggunanya apabila digunakan untuk hal kebaikan dan dapat memberikan dampak negatif apabila digunakan untuk hal keburukan. Khususnya dalam bidang pendidikan, penggunaan AI dapat menguntungkan bagi siswa karena para siswa dapat memanfaatkan AI tersebut untuk menambah wawasan dalam mencari suatu informasi dengan tetap memperhatikan kebenaran berita tersebut. Namun, apabila Artificial Intelligence (AI) tersebut digunakan secara berlebihan dapat membuat siswa malas untuk berpikir sehingga dapat menghambat perkembangan pola berpikir kritis siswa. Selain itu, tindakan plagiarisme juga sering terjadi dalam pendidikan yang dapat merugikan orang lain.

Adapun manfaat dari penggunaan AI bagi para guru, seperti mempermudah guru dalam melakukan evaluasi terhadap nilai siswa, memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengembangkan kreativitas serta membuat inovasi baru yang dapat mempermudah proses belajar mengajar di dalam kelas. Dibalik manfaat penggunaan AI yang mempermudah pekerjaan guru, ada beberapa dampak lain yang muncul yang dimana dapat menggeser peran guru sebagai pengajar karena mudahnya akses dalam mencari berbagai informasi, selain itu juga penggunaan AI dapat mengurangi interaksi sosial antar individu.

Baca Juga  Peran Pendidikan Guru Di Gantikan Oleh Sistem Kecedasan Buatan (AI) Yang Menjadi Medan Perang Epistemology

Rekomendasi

Agar penggunaan Artificial Intelligence (AI) di dunia pendidikan memberikan manfaat maksimal dan meminimalkan dampak buruk, penulis merekomendasikan:
1. Menerapkan Prinsip “AI Sebagai Alat Bantu”
Menggunakan AI hanya untuk mencari referensi, memahami konsep, dan mencari ide. Tidak melakukan tindakan plagiarisme dalam penggunaan sebuah kutipan dan mencari kebenaran informasi menyebarluaskannya.
2. Bangun Budaya Literasi Digital dan Verifikasi Informasi di Sekolah
Guru perlu mengajarkan siswa bagaimana cara mengecek sebuah fakta, membandingkan sumber AI dengan buku/dosen, dan mengenali hoaks.
3. Membuat Kebijakan Penggunaan AI
Pihak yang berwewenang membuat kebijakan tentang waktu penggunaan AI dalam kegiatan belajar mengajar dengan mewajibkan sumber yang jelas serta menetapkan aturan tegas tentang plagiarisme beserta sanksinya.
4. Membatasi Porsi Penggunaan AI pada Setiap Jenjang Pendidikan
Memberikan perbedaan porsi terhadap cara penggunaan AI pada tiap jenjang pendidikan SD, SLTP/SMP, SLTA/SMA/MA, dan perkuliahan. Yang dimana kemampuan otak setiap siswa di jenjang tersebut berbeda dalam memahami dampak penggunaan AI seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z., Kusmaryono, I., C Ulia, N. (2025). Literatur Review: Kecerdasan Buatan dalam Pembelajaran Adaptif dan Dampaknya terhadap Sosial-Emosional Siswa Sekolah Dasar. Edukasi Tematik: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, c(2), 100-108.

Hadi, Z., C Ali, M. (2025). Analisis Dampak Negatif Pengunaan Artificial Intelligence dalam Pendidikan. Jurnal Ilmu Pendidikan & Sosial (Sinova), 3(02), 165-174.

Hamid, M. A., Fathurohman, M. H., & Muslim, N. (2024). Dampak Penggunaan ChatGPT Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama: Risiko Plagiarisme, Penurunan Kreativitas, dan Ketergantungan Terhadap Teknologi. Jurnal Multidisiplin Indonesia, 3(12), 1394-1406.

Ibad, M. I., Yazid, S. R., C Farhan, N. (2024). Literature Review: Pengaruh Penggunaan AI Terhadap Pengerjaan Tugas Mahasiswa. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4(6), 5105-5118.

Khairiyah, T. K., C Humayah, H. (2025). Implementasi Platform AI untuk Personalisasi Evaluasi Pembelajaran Siswa SMP di Era Digital. International Journal of Informatics, 1(1).

Meiliawati, A. E., Zulfitria, Z., C Sugiarto, T. W. (2024). Penggunaan media berbasis artificial intelligence (AI) untuk menunjang proses pembelajaran pada tingkat sekolah menengah atas: A literature review. INFOTIKA: Jurnal Pendidikan Informatika, 3(1), 12-17.

Nasution, A. S., Sari, M., & Ramadhan, F. (2025). Dampak Ketergantungan Artificial Intelligence terhadap Motivasi Belajar dan Integritas Akademik Siswa. Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia, 5(1), 112-125.

Ratnasari, R., Zabeta, M., C Sholeha, F. Z. (2025). Pengaruh Artificial Intelegence (AI) Terhadap Kemampuan Berfikir Kristis Matematis Siswa. Algoritma: Jurnal Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Kebumian Dan Angkasa, 3(1), 68-76.

Salsabilla, K. A. Z., Hadi, T. D. F., Pratiwi, W., C Mukaromah, S. (2023, November). Pengaruh penggunaan kecerdasan buatan terhadap mahasiswa di perguruan tinggi. In Prosiding Seminar Nasional Teknologi Dan Sistem Informasi (Vol. 3, No. 1, pp. 168-175).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *