
Babelmendunia.com – Ramadhan selalu hadir sebagai bulan yang penuh makna bagi umat Islam. tetapi juga ruang spiritual untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menumbuhkan akhlak mulia. Dalam suasana inilah Talkshow Ramadhan Istimewa Episode 27 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bangka Belitung mengangkat tema “Menjemput Keberkahan Ramadhan dengan Manhaj Tarjih.” Tema ini menjadi pengingat bahwa keberkahan Ramadhan tidak hanya diraih melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui pemahaman agama yang benar dan berlandaskan metodologi yang kuat.
Dalam perspektif Islam, Ramadhan merupakan bulan istimewa yang Allah berikan kepada orang-orang beriman. Pada bulan ini, umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Lebih dari itu, Ramadhan juga dikenal sebagai bulan penuh ampunan dan pahala yang dilipatgandakan. Setiap amal ibadah, baik yang wajib maupun sunah, memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Karena itu, umat Islam diajak untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, menahan amarah, serta menjaga lisan dan perbuatan.
Namun, makna puasa tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga semata. Puasa juga merupakan latihan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu. Orang yang hanya menahan makan dan minum tetapi tidak mampu menahan ucapan dan perilaku buruk, sejatinya tidak mendapatkan esensi puasa itu sendiri. Seperti yang sering diingatkan para ulama, puasa sejati adalah puasa yang mampu membentuk karakter sabar, jujur, dan penuh empati kepada sesama.
Dalam talkshow tersebut juga dijelaskan mengenai konsep tarjih, yang menjadi salah satu ciri penting dalam pemikiran Muhammadiyah. Tarjih adalah sistem metodologi ijtihad yang digunakan untuk mengkaji, merumuskan, dan menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pendekatan yang komprehensif dan rasional. Melalui metode ini, Muhammadiyah berupaya menghadirkan pemahaman Islam yang lebih sistematis, ilmiah, dan tetap berpegang teguh pada sumber utama ajaran Islam.
Salah satu contoh penerapan manhaj tarjih dapat dilihat dalam penentuan awal Ramadhan. Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi. Pendekatan ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bagian dari upaya memahami syariat dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan yang telah Allah anugerahkan kepada manusia. Dengan metode tersebut, umat dapat mempersiapkan ibadah secara lebih terencana dan terukur.
Selain tarjih, dalam Muhammadiyah juga dikenal konsep tajdid, yang berarti pembaruan. Namun, perlu dipahami bahwa tarjih lebih berkaitan dengan upaya memilih dan menetapkan hukum dalam persoalan agama berdasarkan dalil yang paling kuat. Sementara tajdid lebih luas, yaitu usaha pembaruan dalam kehidupan umat agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam.
Melalui diskusi dalam Talkshow Ramadhan Istimewa ini, masyarakat diajak untuk melihat bahwa keberkahan Ramadhan tidak hanya terletak pada banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga pada kualitas pemahaman terhadap ajaran Islam. Dengan manhaj tarjih, umat diharapkan mampu menjalankan ibadah dengan landasan ilmu, bukan sekadar tradisi.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah kesempatan emas yang datang hanya sekali dalam setahun. Ia adalah madrasah spiritual yang melatih kesabaran, ketulusan, serta kedisiplinan dalam beribadah. Dengan memadukan semangat ibadah dan pemahaman agama yang benar melalui manhaj tarjih, umat Islam diharapkan mampu benar-benar menjemput keberkahan Ramadhan, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kemaslahatan masyarakat secara luas.






