Menjaga lisan & Perasaan di bulan suci ramadhan

buatlah enter subtitel dari berita tersebut

Avatar photo
banner 120x600

Babelmendunia.com- pangkalpinang Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang menahan hawa nafsu, menjaga hati, serta mengontrol lisan. Dalam ajaran Islam, pengendalian diri adalah inti dari ibadah puasa. Menjaga ucapan dari gibah, prasangka buruk, dan hinaan menjadi bagian penting agar puasa tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bernilai penuh di sisi Allah SWT.

Secara hukum syariat, gibah memang tidak membatalkan puasa, namun dapat mengurangi pahala. Karena itu, ketika seseorang terlanjur berbuat salah—seperti membicarakan keburukan orang lain—maka ia dianjurkan untuk segera beristigfar, bertobat kepada Allah, dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Allah Maha Pemaaf dan membuka pintu tobat bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh memperbaiki diri.

Larangan berprasangka buruk dan mengolok-olok orang lain ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 11–12. Ayat tersebut mengingatkan agar kita tidak merendahkan orang lain dan tidak berburuk sangka, karena bisa jadi orang yang kita hina lebih baik di sisi Allah. Selain itu, dalam Al-Kahfi juga dijelaskan bahwa setiap perbuatan manusia akan dicatat oleh malaikat, baik yang kecil maupun yang besar.

Baca Juga  Baitul Arqom UNMUH BABEL Gelombang II: Bangga Menjadi Umat Islam

Dalam menghadapi hujatan atau cibiran, sikap sabar dan berkelas adalah pilihan terbaik. Mengabaikan hal yang tidak bermanfaat dan tetap fokus pada perbaikan diri jauh lebih mulia daripada membalas dengan keburukan. Rasulullah SAW juga mengajarkan, berkata baik atau lebih baik diam.

Memberikan kritik pun harus disertai solusi dan niat membangun, bukan menjatuhkan. Kritik yang baik lahir dari hati yang bersih dan bertujuan memperbaiki keadaan, bukan memperkeruh suasana.

Pada dasarnya, setiap ucapan akan kembali kepada diri sendiri. Perkataan yang baik akan membawa kebaikan, sedangkan perkataan buruk dapat menjadi penghambat rezeki dan keberkahan hidup. Oleh karena itu, pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari adalah Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah SAW.

Baca Juga  Pimpinan Wilayah Aisyiyah Bangka Belitung Resmikan Taman Pustaka “Aminah” dan Pustaka Bergerak: Hadirkan Semangat Literasi untuk Generasi Muda

Kesimpulan
Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi juga secara hati dan lisan. Menjaga ucapan, menghindari prasangka buruk, memperbanyak istigfar, serta bersikap sabar saat dihujat adalah bagian dari upaya menyempurnakan ibadah. Dengan ilmu, kesabaran, dan semangat memperbaiki diri, kita dapat menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembentukan akhlak yang lebih baik. Karena pada akhirnya, apa yang kita tanam melalui ucapan dan perbuatan, itulah yang akan kita tuai dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *