Menahan Diri dari Kekuasaan: Puasa Ego, Emosi & Kepentingan Jadi Tema Kajian Podcast PWM Babel Episode 3

proses menahan diri — bukan hanya dari hal-hal fisik, tetapi juga dari ego, emosi, dan kepentingan pribadi

Avatar photo
banner 120x600

Babelmendunia.com – PANGKALPINANG – Kajian Podcast PWM Babel Episode 3 hari ini menghadirkan Rusdiar S.A.P., M.Si., M.M., Ketua Pemuda Muhammadiyah Bangka Belitung, dengan tema reflektif: Menahan Diri dari Kekuasaan: Puasa Ego, Emosi & Kepentingan.

Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa ibadah berawal dari niat. Bahkan ketika belum terlaksana, niat baik sudah bernilai ibadah di sisi Allah. Karena itu, puasa tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan kesungguhan niat dalam menjalankan kebaikan.

Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, puasa dibagi dalam tiga tingkatan. Pertama, puasa orang awam yang sebatas menahan makan dan minum. Kedua, puasa orang khusus, yakni mereka yang mampu menjaga diri dari perbuatan buruk. Ketiga, puasa istimewa, yaitu puasa yang dijalani dengan kesadaran penuh ibadah serta diisi dengan aktivitas yang bermanfaat.

Baca Juga  Berjuang dengan Kemandirian, Tapak Suci SMPN 2 Parittiga Raih 9 Medali di PUSAKA CUP 2026

Lebih jauh, kajian ini menekankan bahwa puasa sejatinya adalah proses menahan diri — bukan hanya dari hal-hal fisik, tetapi juga dari ego, emosi, dan kepentingan pribadi. Puasa ego tercermin dalam keberanian meminta maaf lebih dahulu dan menjaga silaturahmi tanpa dikalahkan gengsi. Puasa emosi mengajarkan untuk memilih sabar daripada marah, serta mengedepankan tabayyun dalam menyikapi persoalan.

Sementara itu, puasa kepentingan mengajak umat untuk peduli terhadap sesama. Manusia tidak diciptakan sebagai individu yang hidup sendiri, melainkan sebagai bagian dari masyarakat. Karena itu, semangat Ramadhan harus mendorong kepedulian sosial — berbagi meski dalam keterbatasan dan memberi dengan keikhlasan, bukan sekadar kuantitas.

Kajian ini ditutup dengan pesan bahwa Ramadhan bukan tentang menjadi manusia yang sempurna, tetapi menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya — bukan sekadar lebih ringan secara fisik, melainkan lebih kuat secara spiritual, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama.

Baca Juga  Pengajian Dhuha dan Tadarus Al-Qur’an SMA Muhammadiyah Sungailiat, Ketua PWM Babel Tekankan Nilai Kemuhammadiyahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *