Opini  

Ketika Kelopak di Tenun Menjadi Makna “Bunga Sepatu dalam Bingkai Tradisi Kain Caual Maslina”

Oleh: ldo Saputra, Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Alam, Fakultas Teknik Dan Sains Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Avatar photo
banner 120x600

BabelMendunia.com, Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) merupakan salah satu tanaman hias yang banyak ditemukan di lingkungan masyarakat Melayu, termasuk di wilayah Bangka Belitung.Hal tersebut dikarnakan bunga sepatu sendiri merupakan tanaman yang termasuk mudah ditanam dan tumbuh, jadi bunga sepatu menjadi tumbuhan hias yang mudah di rawat. Secara visual, bunga sepatu memiliki bentuk yang indah, warna mencolok, dan mudah dikenali. Karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari, bunga ini kerap dijadikan inspirasi dalam seni hias, termasuk pada kain tradisional seperti kain cual. Akan tetapi , dalam konteks budaya Melayu, dalam penggunaan motif bunga sepatu sendiri tidak dapat dilepaskan dari makna simbolik dan nilai filosofis tertentu yang membuatnya tergolong sensitif .

Salah satu motif yang menarik perhatian adalah digunakannya bunga sepatu (Hibiscus rosa- sinensis) sebagai motif pada Kain Cual Maslina. Motif bunga sepatu yang sedang mekar langsung menarik perhatian. Bunga sepatu banyak tumbuh dipekarangan rumah dan ruang publik. Dalam kain cual, bunga sepatu tidak digambarkan secara realistis, melainkan disamarkan sesuai dengan kaidah seni hias tradisional.Menurut saya, hal ini menunjukkan kreativitas perajin dalam mengolah unsur alam menjadi motif dekoratif yang memiliki nilai estetika sekaligus budaya Melayu.

Gambar 1.a. Motif bunga kembang sepatu pada kain Cual warisan; b) bunga sepatu

Berdasarkan sejarahnya, kain Cual babel merupakan hasil tradisi budaya Cina dan Melayu. Dari segi makna, motif bunga sepatu dapat dimaknai sebagai simbol keindahan,kelembutan, dan kehidupan. Bunga yang sedang mekar sering diartikan sebagai lambang harapan dan pertumbuhan. Makna ini selaras dengan pandangan masyarakat tradisional yang menjadikan alam sebagai sumber inspirasi dan filosofi hidup.Oleh karena itu, motif bunga sepatu pada kain cual tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai penyampai nilai-nilai simbolik dan makna.

Di sisi lain, motif bunga sepatu juga memiliki potensi besar sebagai media pelestarian budaya jika digunakan dengan tepat. Dengan pendekatan akademik dan edukatif, motif ini dapat diperkenalkan kepada generasi muda sebagai simbol keindahan yang mengandung pesan moral. Penggunaan motif bunga sepatu pada kain cual, misalnya, dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan filosofi hidup masyarakat Melayu yang menekankan keseimbangan antara keindahan, kesopanan, dan nilai spiritual.

Baca Juga  MENGGALI BIJAK PENGELOLAAN TIMAH: SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT BANGKA BELITUNG

Dengan demikian, sensitivitas bunga sepatu dalam budaya Melayu tidak dapat dilepaskan dari makna filosofis, nilai kesopanan, dan ajaran religius yang dianut masyarakatnya. Bunga sepatu bukan sekadar tanaman hias, melainkan simbol budaya yang harus dipahami secara utuh. Sebagai generasi muda dan mahasiswa, memahami makna ini merupakan langkah penting dalam upaya melestarikan budaya lokal secara bertanggung jawab, agar warisan budaya seperti kain cual tetap hidup dan bermakna di tengah perkembangan zaman.

Dalam budaya Tionghoa, kembang sepatu dipandang sebagai simbol ketahanan hidup karena mampu tumbuh dan berbungadi berbagai kondisi lingkungan, Dimana Makna ini selaras dengan nilai budaya Tionghoa yang menghargai ketekunan, kerja keras, dan kemampuan bertahan menghadapi perubahan kehidupan Ketika motif bunga sepatu hadir dalam kain cual,simbol ini dapat dimaknai sebagai representasi daya hidup dan semangat keberlanjutan masyarakat pesisir.

Warna bunga sepatu sendiri umumnya merah, dimana warna merah memiliki makna khusus dalam budaya Tionghoa karena merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan energi kehidupan atau qi, Makna ini menunjukkan bahwa motif bunga sepatu tidak hanya berfungsi sebagai hiasan visual, tetapi juga sebagai simbol harapan dan optimisme hidup.

Sebagai mahasiswa, kami memandang kain cual sebagai salah satu bentuk warisan budaya lokal yang memiliki nilai seni dan identitas daerah yang kuat. Kain cual berasal dari Bangka Belitung dan hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan acara resmi. Keberadaan motif-motif alam pada kain cual menunjukkan bahwa budaya masyarakat setempat sangat erat kaitannya dengan lingkungan sekitar, terutama flora yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya bunga sepatu itu sendiri. Pemanfaatan flora pada kain Cual juga merupakan salah satu cara konservasi tanaman.

Baca Juga  Guru dan Infrastruktur: Pilar Penting yang Sering Terabaikan dalam Pendidikan

 

Menurut pendapat saya sebagai mahasiswa UNMUH BABEL pelestarian kain cual bermotif bunga sepatu perlu mendapat perhatian lebih, terlebih lagi melalui pendidikan dan kegiatan budaya. Pengenalan kain tradisional di lingkungan akademik, seperti pameran budaya atau penggunaan dalam acara resmi kampus, dapat meningkatkan rasa bangga terhadap budaya lokal. Dengan cara ini, generasi muda tidak hanya mengenalkain cual sebagai produk budaya, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa pemahaman terhadap filosofi ini sangat penting, terutama dalam kajian seni dan budaya termasuk konservasi. Tanpa pemahaman konteks budaya, motif bunga sepatu bisa saja digunakan secara bebas dan kehilangan makna aslinya. Padahal, dalam budaya Melayu, setiap motif memiliki “bahasa simbolik” yang mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Kesalahan dalam penggunaan simbol dapat dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap nilai adat dan kearifan lokal.

Dalam konteks kain tradisional seperti kain cual, motif bunga sepatu umumnya tidak ditampilkan secara realistis. Pengrajin lebih memilih bentuk stilisasi, pengulangan pola, dan penggabungan dengan motif lain yang melambangkan keseimbangan dan keharmonisan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Melayu tidak menolak kehadiran bunga sepatu, melainkan mengatur penggunaannya agar tetap selaras dengan nilai adat. Dengan kata lain, sensitivitas motif bunga sepatu bukan berarti larangan mutlak, tetapi bentuk kontrol budaya terhadap simbol visual.

Koordinator Mata Kuliah Etnobiologi: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP.,M.P

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *