Dari Mimbar ke Media Digital, Menjawab Tantangan Zaman

Avatar photo
banner 120x600

Babelmendunia.com — Ramadhan selalu hadir sebagai momentum istimewa bagi umat Islam untuk memperbaiki diri sekaligus memperluas manfaat bagi sesama. Dalam Talk Show Ramadhan Istimewa Episode 28 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bangka Belitung, tema “Dakwah Ramadhan dari Mimbar ke Media Digital” menjadi refleksi penting atas perubahan cara berdakwah di era modern.

Dakwah pada hakikatnya adalah panggilan untuk menyiarkan kebaikan dan mengajak manusia meninggalkan keburukan. Bulan Ramadhan, sebagai bulan penuh keberkahan dan waktu diturunkannya Al-Qur’an, menjadi ruang paling tepat untuk menguatkan peran tersebut. Namun, metode dakwah kini tidak lagi terbatas pada mimbar masjid.

Secara klasik, dakwah dikenal dalam beberapa bentuk. Dakwah bil lisan, yakni melalui ucapan atau ceramah; dakwah bil qalam, melalui tulisan; serta dakwah bil hal, yaitu melalui tindakan nyata yang mencerminkan keteladanan (uswatun hasanah). Dalam konteks kekinian, dakwah bil qalam mengalami transformasi besar melalui media digital dan sosial, melahirkan para konten kreator yang menjadikan platform digital sebagai sarana menyampaikan pesan kebaikan.

Namun, perkembangan ini juga membawa tantangan. Salah satu persoalan utama adalah masih lemahnya penyebaran dakwah yang berkualitas serta maraknya informasi yang tidak valid atau hoaks. Di sinilah pentingnya prinsip kehati-hatian. Dakwah tidak boleh disampaikan secara sembarangan, apalagi jika mengandung informasi yang belum jelas kebenarannya.

Baca Juga  Menjadikan Ramadhan Sebagai 'Rest Area' dan Kompas Moral Aktivisme Pemuda

Empat pilar tabligh menjadi kunci dalam menjawab tantangan tersebut. Pertama, keshalehan digital—yakni etika dan integritas dalam menggunakan media. Kedua, kestandaran—memastikan pesan dakwah memiliki landasan yang jelas. Ketiga, produksi—kemampuan menciptakan konten yang menarik dan relevan. Keempat, infrastruktur—dukungan teknologi yang memadai untuk menjangkau audiens lebih luas.

Pesan penting yang mengemuka adalah bahwa setiap individu memiliki peran dalam berdakwah. Jika tidak mampu berdiri di mimbar, maka media sosial bisa menjadi sarana alternatif. Bahkan, menyampaikan satu ayat pun sudah menjadi bagian dari kontribusi dakwah.

Namun demikian, berdakwah di media sosial membutuhkan kedewasaan sikap. Pro dan kontra adalah hal yang tidak terhindarkan. Oleh karena itu, seorang dai digital dituntut untuk tidak mudah tersinggung atau “baperan”, serta tetap berpegang pada prinsip bil hikmah—menyampaikan dengan bijaksana, penuh kelembutan, dan disertai doa.

Baca Juga  Rama, Nasir, Atina dan Yaya Pelopori Pembentukan Organisasi Jong Babel, Fokus pada Lingkungan, Sosial, dan Pengembangan SDM – Ajak Anak Muda Babel Bersatu untuk Masa Depan

Lebih dari sekadar menyampaikan pesan, dakwah juga mengajarkan untuk menebarkan kebaikan, memberantas hal negatif, serta menjaga aib diri dan orang lain. Karena pada akhirnya, apa yang tampak buruk di mata manusia belum tentu buruk di sisi Allah, begitu pula sebaliknya.

Melalui momentum Ramadhan ini, dakwah tidak hanya menjadi aktivitas seremonial, tetapi juga gerakan transformasi sosial yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Dari mimbar ke media digital, semangatnya tetap sama: menghadirkan kebaikan untuk semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *